Selasa, 17 November 2020
Happy 7 Bulan ❤️
Selasa, 06 Oktober 2020
Poin Plus dan Minus π
Ternyata Semakin dewasa semakin bermacam macam juga masalah yang menghampiri. Dari masalah yang sebenarnya bukan masalahnya. Hal itu menjadi masalah. Misalnya saja masalah orang melihat tetangga bisa membeli mobil, bisa membeli motor baru, punya suami kerja mapan, bisa lanjut sekolah tinggi, ada orang yang semakin tambah sukses, lihat tetangga cantik atau ganteng. Dan bagi yang tidak suka menganggap hal itu menjadi masalah. Pasti akan menggunjingnya atau lebih jelasnya mengerasani.
Beberapa orang yang saya amati saat nonggo atau berkumpul santai dengan tetangga. Ternyata masih ada aja yang suka kepo banget dengan kehidupan orang lain. Misalnya aja si A melihat si B memakai perhiasan. Si A langsung menyindir dengan nada sedikit menyinggung. Tanya si A : wah kamu baru kerja sudah bisa beli kalung dan cincin emas. Bayaranmu dapat banyak ya?
Karena si B orangnya easy going dia menjawab dengan sesukanya. Jawab si B begini: iyalah banyak. Sekarung malah.
Coba kalau itu yang ditanya saya. Pasti kebingungan jawab. Karena saya orangnya perasa jadi gak berani jawab seperti itu. Mungkin jika aku yang jawab cuma saya jawab dengan senyuman saja. Hehehehe. Habisnya pertanyaan yang gak penting bangetkan. Privasi orang kok ikut campur.
Semenjak saya sekolah SMK sampai kuliah. Jarang sekali saya nonggo, ya karena salah satunya banyak omongan yang bikin sebel sendiri. Selain itu tugas kuliah banyak sekali, lebih baik dirumah ngerjain tugas. Jika tidak ada tugas, saya lebih baik tidur untuk istirahat. Biasanya juga saya gunakan untuk membersihkan rumah. Dan saya dulu juga lebih menyibukkan dengan aktifitas diluar rumah salah satunya dengan ikut ngaji balahan di madrasah pondok pelem botoran dan ngaji Quran dengan metode thorikoti di Blitar.
Entah mengapa semenjak saya kuliah tambah banyak omongan orang dekat yang pedas. Ada yang bilang buat apa perempuan sekolah tinggi. Toh nantinya kalau menikah akan didapur. Saya tidak mau membalas menanggapi mereka. Saya kira itu tidak penting. Hal itu yang membuat saya lebih suka di rumah. Dan saya juga betah dirumah. Hhhh.
Mau digosipin seperti apa itu. Terserah mereka. Yang penting saya tidak mendengarkannya.
Dan sekarang banyak rutinitas nonggo. Karena bayiku mudah bosan jika hanya dirumah saja. Waduh ini kuping (telinga) harus dipertebal dan ini hati harus kuat seperti baja. Tidak boleh mudah tersinggung.
Tidak jarang saya kangen kuliah lagi. Bertemu dengan teman-teman yg baik, dosen yang bwnyak memberi ilmu,dan motivasi. Sehingga hidup lebih tenang dan nyaman.
Kehidupan memang terus berjalan dan harus dijalani. Jika ada orang yang memang kita anggap kurang sopan. Anggap aja dia sebagai penguji kesabaran.
Hidup bermasyarakat membuat kita menemui banyak sifat. Di bangku perkuliahanpun sebenarnya juga ada teman yang nyebelin. Untuk menghindarinya mudah sekali. Tinggal tidak perlu terlalu dekat dengannya. Dan tidak perlu memasukkan hati omongan pedasnya. Begitu pula dengan hidup bermasyarakat. Karena nyatanya ada tetangga yang sebagai penguji dan yang di uji. Jika kita diposisi yang diuji cukup kurang-kurangin nonggo. Apabila terpaksa cukup jangan masukin hati.
Karena selamanya tetangga itu tidak negatif. Mereka kadang juga bisa dikatakan positif misalnya kita saat membutuhkan pertolongan pertama. Pasti tetangga yang akan menolongnya. Meskipun dia berhati kurang baik. Setidaknya masih tersisa jiwa sosialnya.
Beruntunglah kita jika ditakdirkan atau diberikan hidayah menjadi orang baik. Namun jangan sombong, karena Allah maha membolak balikkan hati manusia. Bisa jadi yang jahat jadi baik. Dan sebaliknya.
Kehidupan terus mengajari kita untuk belajar besyukur, mengerti ikhlas, sabar, pasrah, usaha, dan lain lain. Terkadang juga kita melihat orang lain hidup enak, mewah, nyaman, mempunyai jabatan dll. Karena kita tidak melihat beribu ribu dia jatuh bangun. Hanya yang kita lihat enaknya saja. Mereka pandai menyembunyikan masalah. Sehingga yang terlihat Indahnya saya. Betul kata pepatah hidup iku sawang sinawang.
Dari pada saling iri sana sini
Mending belajar mensyukuri milik kita sendiri.
Bolehlah iri yang baik dengan menjadikannya motivasi. Misal ada orang rajin ibadah ngaji, jamaah, puasa, sholat sunnah, zakat, dll. Supaya meningkatkan iman kita. Sehingga kita semangat untuk melaksakannya dan menirunya. Supaya kelak kita bisa dimasukkan surga bersama sama. Aamiin.
#yuk,semangat belajar terus
Karena nyatanya hidup terus mengajari kita.
NB. Jika ada salah kata mohon maaf π. Ditunggu kritik dan sarannya. Trimakasih sudah membaca.
Tulungagung, 7 Oktober 2020
Jumat, 02 Oktober 2020
Carrot Fruit Juice
Sabtu, 05 September 2020
Nangkula Park
Sabtu, 29 Agustus 2020
Belajar Iqro'
Jumat, 21 Agustus 2020
Buwoh dibulan Agustus 2020
Manfaat Air Kacang Hijau bagi BuMiL π❤️
Sabtu, 01 Agustus 2020
Semua Pasti Ada Hikmahnya
Minggu, 19 Juli 2020
Saljur (Salah Jurusan)
Hari
ini ingiku menuliskan kisah kuliahku.
Saya
adalah anak kelima dari enam bersaudara. Ibuku sangat mendukung anak-anaknya
untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Namun hanya aku dan
adikku yang sampai perguruan tinggi. Kakak-kakakku belum bisa melanjutkan
keperguruan tinggi salah satunya karena dulu terkendala dengan biaya sekolah.
Pas ada biaya namun sayangnya uang itu dipinjam oleh seseorang dan tidak
dikembalikan.
Tidak semua kakakku semangat sekolah. Ada yang semangat sekali
sekolah tapi karena masalah uang yang tidak dikembalikan tersebut. Membuat
kakakku tidak jadi melanjutkan sekolah. Meskipun kakakku tidak jadi melanjutkan
sekolah tetapi mereka itu kreatif. Jadi dengan kemampuan kreatifnya bisa
membuka usaha sendiri.
Alhamdulillahnya saya bisa melanjutkan sekolah. Semua itu tidak terlepas dari
dukungan ibuku. Ibuku selalu menyemangatiku untuk sekolah. Ibaratnya makan lauk
sambel aja tidak apa-apa dan uangnya untuk biaya sekolah aku dan adikku.
Ibuku selalu mengutamakan keperluan sekolah. Terlebih adikku
kuliah di Malang. Jadi sangat banyak kebutuhan yang dikeluarkan. Ibuku sering
menyimpan uang demi keperluan adikku disana.
Karena aku kuliah disini yaitu IAIN Tulungagung dan dekat dengan rumahku. Tidak
banyak uang yang harus dikeluarkan. Dan yang pasti tidak perlu kos. Jadi lebih
hemat biaya.
Sering saya mengalah untuk uang saku kuliah yang sedikit. Karena harus
dikumpulkan demi untuk adikku disana.
Tak membuatku patah semangat hanya dengan masalah itu. Jadi aku
mencari tambahan uang dengan berjualan on line. Lumayan uangnya bisa untuk
tambahan uang jajan dan membeli keperluan kuliah. Saya tidak malu jika harus
berjualan on line. Kenapa harus malu dengan hal yang baik. Banyak teman dikelas
yang menyindir, entah itu hanya bercanda atau tidak. Anggap saja itu candaan.
Dan nyatanya sekarang setelah lulus dari kuliah mereka juga berjualan online.
Saya kuliah mengambil jurusan PAI. Sebenarnya tidak nyambung
dengan riwayat sekolahku. Saya sekolah di SDN, SMPN, dan SMKN dengan jurusan
Administrasi Perkantoran. Lalu saya kuliah dengan mengambil jurusan PAI. Sama
sekali tidak nyambung. Saya sebenarnya suka dengan ilmu agama sejak
kecil. Sampai setelah lulus SD minta dipondokkan. Tetapi tidak diperbolehkan.
Setelah lulus Smp ingin melanjutkan di MAN. Sama saja tidak diperbolehkan
dengan bapak. Mungkin sekolah yang berbasis islam dulu itu dianggap belum maju.
Jadi tidak boleh sekolah dilembaga yang basicnya lebih mengajarkan agama.
Setelah lulus dari SMK saya memutuskan untuk mengambil jurusan
PAI. Betapa banyak lika liku yang harus saya hadapi dengan pengambilan jurusan
yang saya sendiri belum memiliki kemampuan dibidang itu.
Harus menghafal hadist, belajar menulis khat, hafalan surat-surat pendek, dan
masih banyak lainnya. Hampir saya tidak kuat dengan rutinitas yang jauh sangat
berbeda dengan sekolahku dulu. Banyak temanku yang merasa salah jurusan keluar.
Saya juga ingin rasanya keluar. Karena merasa kesulitan sekali belajar mulai
dari awal. Namun teringat motivasi dari salah satu guru saya yaitu jika
terbiasa berhenti sebelum selesai. Hal itu akan terbawa saat dikehidupan
setelah lulus sekolah.
Sedangkan teman sekelas lainnya berasal dari pondok dan MAN. Ada
yang tidak berasal dari MAN tetapi keluarganya sangat kental sekali dengan ilmu
agama. Jadi temanku itu tidak terlalu kesulitan dengan jurusan PAI. Berbeda
denganku yang dari keluarga biasa-biasa saja. Alhamdulillahnya saya mampu
bertahan di jurusan ini. Dengan banyak perjuangan. Sampai badan saya kurus
banget. Apalagi saya tipe orangnya sulit menghafal dan mudah lupa dengan ilmu
yang didapatkan dengan memaksa hafalan. Dan jurusan ini menuntut kita harus
hafal berbagai hadist. Tetapi saya masih berusaha berjuang sedikit-sedikit
untuk menghafalkannya.
Setelah selesai lulus dari S1 saya melanjutkan lagi kuliah
S2. Tidak saya sangka mampu melanjutkan kuliah lagi dengan jurusan yang sama. Saya
yakin dan percaya bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
.sekian cerita motivasi pejuang salah jurusan.
Tetap
semangat teman-teman.
Salam penulis pemula
Saya adalah anak kelima dari enam bersaudara. Ibuku sangat mendukung anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Namun hanya aku dan adikku yang sampai perguruan tinggi. Kakak-kakakku belum bisa melanjutkan keperguruan tinggi salah satunya karena dulu terkendala dengan biaya sekolah. Pas ada biaya namun sayangnya uang itu dipinjam oleh seseorang dan tidak dikembalikan.
Alhamdulillahnya saya bisa melanjutkan sekolah. Semua itu tidak terlepas dari dukungan ibuku. Ibuku selalu menyemangatiku untuk sekolah. Ibaratnya makan lauk sambel aja tidak apa-apa dan uangnya untuk biaya sekolah aku dan adikku.
Karena aku kuliah disini yaitu IAIN Tulungagung dan dekat dengan rumahku. Tidak banyak uang yang harus dikeluarkan. Dan yang pasti tidak perlu kos. Jadi lebih hemat biaya.
Sering saya mengalah untuk uang saku kuliah yang sedikit. Karena harus dikumpulkan demi untuk adikku disana.
Harus menghafal hadist, belajar menulis khat, hafalan surat-surat pendek, dan masih banyak lainnya. Hampir saya tidak kuat dengan rutinitas yang jauh sangat berbeda dengan sekolahku dulu. Banyak temanku yang merasa salah jurusan keluar. Saya juga ingin rasanya keluar. Karena merasa kesulitan sekali belajar mulai dari awal. Namun teringat motivasi dari salah satu guru saya yaitu jika terbiasa berhenti sebelum selesai. Hal itu akan terbawa saat dikehidupan setelah lulus sekolah.
Salam penulis pemula
cerita si Penulis Pemula
Sabtu, 18 Juli 2020
Masih Tentangmu
Tentangmu
Tugas Akhir Kuliah
Aku kira
hanya aku yang merasakan rasa dredek (gemetar) saat melihat beberapa teman yang
sudah ujian tesis kemarin tanggal 15 Juli 2020. Ternyata beberapa temanku yang
lain juga merasakan hal itu, terlihat dari chat salah satu temanku. Dia
mengeluhkan bahwa merasa dredek. Entah kenapa rasa itu muncul. Padahal aku dan
temanku itu belum daftar ujian sidang, namun masih proses menuju daftar sidang.
Hehehe
Memang terlihat sedikit aneh, dan mungkin itu hal wajar.
Coba kita
flashback ke masalalu yaitu saat kita duduk dibangku sekolah dasar dan sampai
sekarang ini. pastinya juga sering mengikuti exsame atau (ujian) di sekolah.
Lalu mengapa kita masih saja merasakan rasa takut, dredek, grogi dll. Padahal
ujian sekolah sudah sering sekali kita lakukan.
Apa karena beda jenjang jadi rasa tegangnya berbeda.
Atau mungkin karena semakin tinggi sekolahnya untuk ujiannya semakin berbeda
kesulitannya. Seperti ujian Tesis ini yang dihadapkan dengan 4 dosen penguji.
Untuk tahun
ini ujian dilaksanakan dengan on Line atau bisa juga disebut daring,
dikarenakan adanya Covid 19. Ujian dilakukan secara Online guna untuk mencegah
penyebaran virus tersebut. Kata salah satu kakak tingkatku. "Tahunmu
beruntung dilakukan ujian secara online", Lalu saya tanya balik,
"kenapa begitu?", jawabnya: "dengan ujian online akan mengurangi
rasa dredek ketika berhadapan langsung dengan 4 dosen penguji". Menurutku
benar juga sih pernyataan itu. Tapi kita harus tetap semangat dan jangan lupa
untuk tetap mempersiapkan diri dengan sematang mungkin dalam menguasai isi tesis.
Supaya nanti saat ujian, jadi lebih maksimal hasilnya. Karena menurutku jika
kita bisa menguasai dan faham isi tesis, maka rasa dredek itu akan terkalahkan
dengan keyakinan diri bahwa kita mampu menghadapi tantangan tersebut.
Alhamdulillah
tanggal 14 Juli 2020, Tesisku sudah mendapat Acc dari dosen pembimbing pertama
dan keduaku.
Sedikit revisi di bab IV untuk menambah tabel hasil hipotesis dan bab V diminta
oleh dosen pembimbing keduaku untuk menambah penguat hasil penelitian dengan
jurnal. Setelah mendapat Ttd Acc inginku segera merevisi tetapi leptopku yang
sering Error dengan munculnya tulisan Not Responding. Jika tulisan itu keluar
tiba-tiba siLeptop tidak mau digunakan dan aku harus menunggu beberapa menit
untuk bisa kembali normal kembali.
Perjuangan
sekali dalam menyelesaikan tugas akhir kuliah ini. Aku yang harus mengerjakan
sambil menjaga anak pertamaku yang masih kecil. Anak pertamaku yang aku dan
suami beri nama zaidan al- Gibran masih berusia 3 bulan saat ini. Dalam mengerjakan
tugas ini, aku harus menunggunya tidur dulu atau saat anakku dijaga ibuku.
Ibuku sangat telaten (sabar) dalam menjaganya. Oleh ibuku sering digendong agar
dia merasa nyaman dan tertidur pulas. Thank mom. Sudah membantu menjaganya,
sehingga tugas ini selesai. Terimaksih juga untuk suamiku sudah membelanjakan
buku pendukung tugas dan menemani bimbingan.
Saat
mengerjakan siTesis aku sering tidur larut malam dan bisa sampai pagi kadang
jam 02.00 dan kadang juga bisa sampai subuh. Sering merasa ngantuk sekali,
karena siangnya juga tidak tidur, sibuk menjaga anak dan lain-lainya. Namun
saat ngantuk mulai datang aku memotivasi diri ini dengan mengatakan “Nuruti
Ngantuk Kapan Selesainya?”. Dengan munculnya kalimat itu membuat saya semangat
lagi untuk segera selesai. Dalam proses pengerjaan tugas akhir kuliah ini
sering mengalami hambatan karena bimbingan on line kurang memahamkan. Sehingga perlu
belajar sendiri. Karena belajar sendiri masih membuat saya bingung dengan
rumus-rumus yang akan saya gunakan yang mana saja. Saya mengajak teman-teman
untuk belajar bersama dirumahku dan meminta tolong temanku S1 yang
penelitiannya Non Eksperimen supaya membagi ilmunya kepadaku.
Karena dulu
saya menggunakan Eksperimen jadi kurang paham dengan yang Non eksperimen. Jika belajar
dengan membaca buku membutuhkan waktu lama. Jadi saya memutuskan dengan cara
cepat yaitu dengan meminta bantuan belajar bersama dengan teman yang pernah
melakukan metode penelitian itu. Ini adalah foto dengan anggota belajar
kelompok dalam menyelesaikan tugas akhir kuliah. Bersama Dilla Yulia, Ali
Maksum, Hasbi, dan Falikhul. Temanku Ali Maksum ini belum melanjutkan S2, tapi
dia tidak kalah cerdasnya dengan anak S2. Dia masih sangat tajam sekali ingatannya
mengenai metode penelitian dan pengunaan SPSS. Dia temanku S1 dulu yang aku
mintai tolong mengajari belajar dengan penelitian yang menggunakan Non
Eksperimen.
Baju kuning belakangku yaitu Dilla Yulia yang diminta Dospemnya untuk menggunakan Smart.PLS dalam proses
menghitung data. Masih belajar dengan cara itu. Dan penelitiannya belum
selesai. Semoga segera dimudahkan dan diberi kelancaran dalam menyelesaikanya.
AAMIIN
TIPS motto penyemangat supaya tidak malas dari aku yaitu HARI INI
TIDAK BOLEH MALAS, BESOK BOLEH.
Bukan dari aku sih itu, motto itu aku dapatkan dari dosen IAIN TA saat
saya mengikuti OSPEK di kampus dulu.
Moment Of Waw sekali bisa menyelesaikan tulisan ini. Alhamdulillah.
Saran dan kritiknya bisa ditulis dikomentar. Trimakasih :)
Memang terlihat sedikit aneh, dan mungkin itu hal wajar.
Apa karena beda jenjang jadi rasa tegangnya berbeda.
Atau mungkin karena semakin tinggi sekolahnya untuk ujiannya semakin berbeda kesulitannya. Seperti ujian Tesis ini yang dihadapkan dengan 4 dosen penguji.
Sedikit revisi di bab IV untuk menambah tabel hasil hipotesis dan bab V diminta oleh dosen pembimbing keduaku untuk menambah penguat hasil penelitian dengan jurnal. Setelah mendapat Ttd Acc inginku segera merevisi tetapi leptopku yang sering Error dengan munculnya tulisan Not Responding. Jika tulisan itu keluar tiba-tiba siLeptop tidak mau digunakan dan aku harus menunggu beberapa menit untuk bisa kembali normal kembali.
Saran dan kritiknya bisa ditulis dikomentar. Trimakasih :)

