Ternyata Semakin dewasa semakin bermacam macam juga masalah yang menghampiri. Dari masalah yang sebenarnya bukan masalahnya. Hal itu menjadi masalah. Misalnya saja masalah orang melihat tetangga bisa membeli mobil, bisa membeli motor baru, punya suami kerja mapan, bisa lanjut sekolah tinggi, ada orang yang semakin tambah sukses, lihat tetangga cantik atau ganteng. Dan bagi yang tidak suka menganggap hal itu menjadi masalah. Pasti akan menggunjingnya atau lebih jelasnya mengerasani.
Beberapa orang yang saya amati saat nonggo atau berkumpul santai dengan tetangga. Ternyata masih ada aja yang suka kepo banget dengan kehidupan orang lain. Misalnya aja si A melihat si B memakai perhiasan. Si A langsung menyindir dengan nada sedikit menyinggung. Tanya si A : wah kamu baru kerja sudah bisa beli kalung dan cincin emas. Bayaranmu dapat banyak ya?
Karena si B orangnya easy going dia menjawab dengan sesukanya. Jawab si B begini: iyalah banyak. Sekarung malah.
Coba kalau itu yang ditanya saya. Pasti kebingungan jawab. Karena saya orangnya perasa jadi gak berani jawab seperti itu. Mungkin jika aku yang jawab cuma saya jawab dengan senyuman saja. Hehehehe. Habisnya pertanyaan yang gak penting bangetkan. Privasi orang kok ikut campur.
Semenjak saya sekolah SMK sampai kuliah. Jarang sekali saya nonggo, ya karena salah satunya banyak omongan yang bikin sebel sendiri. Selain itu tugas kuliah banyak sekali, lebih baik dirumah ngerjain tugas. Jika tidak ada tugas, saya lebih baik tidur untuk istirahat. Biasanya juga saya gunakan untuk membersihkan rumah. Dan saya dulu juga lebih menyibukkan dengan aktifitas diluar rumah salah satunya dengan ikut ngaji balahan di madrasah pondok pelem botoran dan ngaji Quran dengan metode thorikoti di Blitar.
Entah mengapa semenjak saya kuliah tambah banyak omongan orang dekat yang pedas. Ada yang bilang buat apa perempuan sekolah tinggi. Toh nantinya kalau menikah akan didapur. Saya tidak mau membalas menanggapi mereka. Saya kira itu tidak penting. Hal itu yang membuat saya lebih suka di rumah. Dan saya juga betah dirumah. Hhhh.
Mau digosipin seperti apa itu. Terserah mereka. Yang penting saya tidak mendengarkannya.
Dan sekarang banyak rutinitas nonggo. Karena bayiku mudah bosan jika hanya dirumah saja. Waduh ini kuping (telinga) harus dipertebal dan ini hati harus kuat seperti baja. Tidak boleh mudah tersinggung.
Tidak jarang saya kangen kuliah lagi. Bertemu dengan teman-teman yg baik, dosen yang bwnyak memberi ilmu,dan motivasi. Sehingga hidup lebih tenang dan nyaman.
Kehidupan memang terus berjalan dan harus dijalani. Jika ada orang yang memang kita anggap kurang sopan. Anggap aja dia sebagai penguji kesabaran.
Hidup bermasyarakat membuat kita menemui banyak sifat. Di bangku perkuliahanpun sebenarnya juga ada teman yang nyebelin. Untuk menghindarinya mudah sekali. Tinggal tidak perlu terlalu dekat dengannya. Dan tidak perlu memasukkan hati omongan pedasnya. Begitu pula dengan hidup bermasyarakat. Karena nyatanya ada tetangga yang sebagai penguji dan yang di uji. Jika kita diposisi yang diuji cukup kurang-kurangin nonggo. Apabila terpaksa cukup jangan masukin hati.
Karena selamanya tetangga itu tidak negatif. Mereka kadang juga bisa dikatakan positif misalnya kita saat membutuhkan pertolongan pertama. Pasti tetangga yang akan menolongnya. Meskipun dia berhati kurang baik. Setidaknya masih tersisa jiwa sosialnya.
Beruntunglah kita jika ditakdirkan atau diberikan hidayah menjadi orang baik. Namun jangan sombong, karena Allah maha membolak balikkan hati manusia. Bisa jadi yang jahat jadi baik. Dan sebaliknya.
Kehidupan terus mengajari kita untuk belajar besyukur, mengerti ikhlas, sabar, pasrah, usaha, dan lain lain. Terkadang juga kita melihat orang lain hidup enak, mewah, nyaman, mempunyai jabatan dll. Karena kita tidak melihat beribu ribu dia jatuh bangun. Hanya yang kita lihat enaknya saja. Mereka pandai menyembunyikan masalah. Sehingga yang terlihat Indahnya saya. Betul kata pepatah hidup iku sawang sinawang.
Dari pada saling iri sana sini
Mending belajar mensyukuri milik kita sendiri.
Bolehlah iri yang baik dengan menjadikannya motivasi. Misal ada orang rajin ibadah ngaji, jamaah, puasa, sholat sunnah, zakat, dll. Supaya meningkatkan iman kita. Sehingga kita semangat untuk melaksakannya dan menirunya. Supaya kelak kita bisa dimasukkan surga bersama sama. Aamiin.
#yuk,semangat belajar terus
Karena nyatanya hidup terus mengajari kita.
NB. Jika ada salah kata mohon maaf 🙏. Ditunggu kritik dan sarannya. Trimakasih sudah membaca.
Tulungagung, 7 Oktober 2020