Selasa, 06 Desember 2016

Tugas 11 dan 12 profesi keguruan

Tugas 11. Peranan Kecerdasan Intelegensi dan Emosi bagi guru PAI .
Contoh :
mahasiswa dipertontonkan kepada sebuah film tentang operasi sunat tanpa bius yang dilakukan oleh suku Aborigin sebagai bagian dari pubertas (Speisman & others, 1964). Grup pertama menonton film tersebut tanpa soundtrack. Grup kedua mendengar soundtrack yang menekankan pada rasa sakit yang dialami anak laki-laki.Grup ketiga mendengar soundtrack yang menjelaskan tentang operasi diluar jalur yang intelektual.Grup keempat mendengar soundtrack yang tidak mementingkan operasi yang menyakitkan dengan cara membicarakn tentang hal yang tidak relevan.
Meskipun semua siswa menonton film yang sama, soundtracklah yang mempengaruhi interpretasi kognitif dari apa yang mereka lihat. Grup yang mendengar soundtrack yang menekankan pada rasa sakitnya operasi menunjukkan Gairah yang lebih besar daripada grup yang tidak mendengar soundtrack sama sekali. Soundtrack yang menekankan pada rasa sakit lebih menunjukkan interpretasi sebagai film yang menjengkelkan. Grup yang mendengar soundtrack yang tidak menekankan pada emosi alamiah dari kejadian tersebut, baik dengan cara mengintelektualkan ataupun tidak mementingkannya menunukkan gairah yang lebih sedikit. Tampaknya, interpretasi kognitif (didorong oleh soundtrack) mengubah arti emosional dari film secara luas.

Sumber: Lahey, B. Benjamin. 2012. Psychology
An Introduction.New York: McGraw-Hill

Argumentasi :
Emosi adalah keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, keberanian yang bersifat subjektif. Pada tahun 1899, Charles Darwin dengan penelitiannya tentang emosi manusia. Menjadikan objeknya berupa rasa takut dan emosi yang memperhatikan fungsi dari emosi terhadap hewan dan manusia. Salah satu pandangannya yang luas adalah tentang emosi yang berevolusi dari waktu ke waktu melalui seleksi alam. (Cacioppo & others, 1999) menurut pandangan ini 2 golongan umum tentang emosi adalah kelangsungan hidup dengan adaptasi dan seleksi alam. (Cacioppo & others, 1999) ) binatang termasuk juga manusia yang bereaksi terhadap rangsangannya yang berbahaya (seperti ular berbisa) dengan mengalami emosi akan mencegah rangsangan yang berbahaya dan untuk bertahan hidup. Begitu pula, hewan yang bereaksi terhadap stimulasi yang bermanfaat (seperti teman-teman dan makanan) bersama emosi positif yang ada pada diri mereka dan akan lebih mungkin untuk dapat bertahan hidup dan bereproduksi (Damasio, 2001). Jadi, emosi negatif dan emosi positif adalah kunci kita bertahan hidup .
1. Emosi manusia dibedakan dalam dua bagian:
· Emosi positif (emosi yang menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan positif pada orang yang mengalaminya, diantaranya adalah cinta, sayang, senang, gembira, kagum, dan sebagainya.
· Emosi negatif (emosi yang tidak menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya, diantaranya adalah sedih, marah, benci, takut dan sebagainya.
2. Kemarahan dan ketakutan identik berhubungan dengan emosinal. Ada banyak alasan untuk percaya bahwa ketakutan dan kemarahan terdapat dalam banyak variasi dari emosi yang sama. Ide ini berawal pada ‘flight or fight’ sindrom dijelaskan dalam Williams james, buku teks psikologi pertama di terbitkan pada tahun 1980. Emosi negative yang intens mempersiapkan individu untuk lari dari ketakutan atau melawan dalam kemarahan. Dua emosi pada dasarnya identik di tingkat psikologi, tetapi banyak faktor menentukan apakah emosi akan mengalami ketakutan atau kemarahan.
3. Hubungan cinta dengan emosinal, banyak ahli menganggap cinta berbeda dengan emosi lainnya. Memang, pengalaman cinta yang romantis sering melibatkan banyak emosi yang seluruh pada peta emosional.
3 teori emosi
penjelasan psikologis emosi membedakan unsure-unsur dasar yang sama dari pengalaman emosi:
(a) adanya situasi stimulus yang menimbulkan reaksi.
(b) adanya pengalaman sadar atau“emosi” yang kita rasakan.
(c) adanya perubahan yang terjad diotak, system saraf otonom dan kelenjar endoktrin yang menciptakan gairah fisiologis pada organ visceral.
(d) adanya kaitan perilaku yang pada umumnya menyertai emosi
Contoh: pada hewan yang takut, gemetar, kemudian lari.
3 teori utama mengemukakan tentang penjelasan cara kerja emosi
James-LangeTheory
umumnya melihat emosi sebagai stimulus seperti melihat seorang perampok yang membuat kita sadar, merasa takut dan sadar akan ketakutan. Bagaimanapun, William James (1890) menyarankan bahwa unsur-unsur emosi terjadi dalam urutan yang berlawanan . Ia percaya bahwa stimulus emosional yang diarahkan (oleh pusat relay sensorik dikenal sebagai thalamus) langsung ke system limbic , yang beroperasi melalui hipotalamus dan pembagian simpatik dari sistem saraf otonom untuk mengaktifkan bagian-bagian tubuh untuk mengatasi kondisi darurat (ketegangan otot, berkeringat, peningkatan denyut jantung dan pernapasan dan sebagainya) . Sensasi dari gairah tubuh tersebut kemudian dikirim kembali ke korteks dan menghasilkan perasaan sadar akan emosi kita. Menurut James, “Kita merasa menyesal karena kita menangis, marah karena kita emosi, takut karena kita gemetar.” Beberapa tahun kemudian , ahli fisiologi Denmark Carl Lange (1922) dengan pendiriannya mengusulkan teori yang sama, sehingga dikenal sampai hari ini sebagai James-Lange Theory of Emotion .

Sumber:
1. Lahey, B. Benjamin. 2012. Psychology
An Introduction.New York: McGraw-Hill

2. http://psikologiusu.blogspot.com/2015/08/makalah-pengantar-psikologi-emosi.html?m=1 diakses tanggal 7 Desember 2016

Tugas ke 12 peranan kecerdasan Spiritual dan kreatifitas guru

Contoh:

Guru PAI di Smpn 1 kauman mengajar dengan cara siswa berkelompok. Setelah itu siswa di minta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok

argumentasi:

1. Berpikir inovatif

Jiwa yang kreatif terlahir dari sebuah pemikiran guru yang selalu ingin berinovasi sehingga selalu bervariasi dalam memberikan materi pelajaran kepada anak didiknya.

2. Percaya diri

Tentu saja sifat percaya diri dan selalu ingin berkembang ada pada diri guru yang kreatif. Tidak mudah memang menjadi seorang guru yang kreatif, karena apa pun karya yang dia ciptakan harus kembali kepada anak didiknya. Keberhasilan seorang guru yang kreatif terletak pada kepuasan siswa setelah menerima materi pelajaran yang diberikan. Kalau pun anak didik merasa tidak suka atau tidak puas, guru yang kreatif seharusnya peka dalam hal ini. Langkah selanjutnya, dia akan mencoba mencari metode mengajar yang lain. Metode pengajaran yang sesuai dengan selera dan kemampuan anak didiknya. Tapi bagi saya, masalah siswa puas atau senang dengan metode pelajaran yang kita berikan adalah urusan belakangan. Yang terpenting adalah sikap pantang menyerah untuk selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anak didiknya. Karena apa pun metode pengajaran yang diberikan, bila bervariasi, maka siswa pasti tidak akan bosan.

3. Materi Pelajaran yang Diberikan Menjadi Mudah Dimengerti

Tidaklah mudah mentransfer ilmu dari seorang guru menuju ke anak didiknya. Namun itulah tantangan yang biasanya dihadapi oleh seorang guru. Namun seorang guru yang kreatif akan selalu mencoba berbagai cara agar anak didiknya mudah memahami materi pelajaran yang diberikan.

4. Terus Belajar dan Belajar

Tidak ada kata puas bagi seorang guru yang kreatif. Bukan tidak ada kata puas yang negative. Namun kata “tidak puas” bagi seorang guru yang kreatif adalah suatu semangat untuk terus mengembangkan diri demi kebaikan diri sendiri, anak didik, dan sekolah.

5. Cerdas Dalam Menemukan Talenta Anak Didiknya

Karena tingkat kepekaan kepada anak didiknya yang tinggi, maka seorang guru yang kreatif biasanya mengenal kemampuan setiap anak didiknya. Kemampuan anak didiknya adalah bisa berupa bakat atau talenta. Dengan kepekaan yang dia miliki, seorang guru yang kreatif akan berusaha untuk memanfaatkan dan mengembangkan talenta yang dimiliki oleh anak didiknya, misalnya dengan memberikan kesempatan anak didiknya untuk tampil di acara-acara sekolah.

6. Kooperatif

Guru yang kreatif menyadari akan kelemahannya juga sebagai manusia. Itulah kenapa seorang guru yang kreatif berusaha untuk bisa belajar dari orang lain. Dengan kata lain, guru yang kreatif harus bisa bekerjasam dengan sesama guru, anak didik, kepala sekolah, dan pihak-pihak yang berada di lingkungan sekolah. Hal ini juga berguna untuk menyatukan misi dan visi diri dengan misi dan visi sekolah dan mengurangi kesalahpahaman dan permasalahan yang mungkin terjadi.

7. Mengajar Dengan Cara Menyenangkan

Seorang guru yang kreatif tidak ingin anak didiknya merasa bosan dan tertekan pada saat dia memberikan sebuah materi pelajaran kepada anak didiknya. Maka dia akan selalu mencari cara agar anak didiknya merasa nyaman dengan cara mengajar yang dia berikan.

Sumber:

http://www.7topranking.com/2012/09/7-tips-menjadi-guru-kreatif.html?m=1 diakses tanggal 7 Desember 2016

Sabtu, 03 Desember 2016

Teknik-Teknik Supervisi

Tujuan dan Teknik supervisi pendidikan
Tujuan supervisi pendidikan
1. Membantu guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai kegiatan program satuan pembelajaran,
2. Membantu guru menyusun
Teknik-teknik supervisi pendidikan
1. Kunjungan kelas,
2. Pertemuan pribadi
3. Rapat dewan guru,
4. Kunjungan antar kelas,
5. Kunjungan sekolah,
6. Kunjungan antar sekolah
7. Penerbitan buletin, dan
8. Penataran atau pendidikan dan pelatihan.
Penjelasan Teknik-teknik supervisi pendidikan sebagai berikut :
Kunjungan Kelas
Supervisor memasuki ruang kelas pada pelaksaan KBM. Teknik ini dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
1. Direncanakan pengawas dan diberitahukan kepada guru yang bersangkutan
2. Direncanakan oleh pengawas, tetapi tidak diberitahukan kepada guru yang bersangkutan
3. Direncanakan oleh guru, kemudian mengundang pengawas.
Kunjungan kelas ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi dalam rangka peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran bukan menentukan kondite.
Pertemuan Pribadi
Pertemuan pribadi adalah dialog antara pengawas dan guru mengenai usaha-usaha meningkatkan kemampuan profesional guru. Pertemuan pribadi dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Pertemuan pribadi sebelum kunjungan kelas
Pertemuan ini membicarakan upaya perbaikan proses pembelajaran sehingga akan menjadi fokus obserfasi kelas.
Pertemuan pribadi sesudah kunjungan kelas.
Pertemuan ini membicarakan kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan sehingga menjadi umpan balik bagii guru untuk memperbaiki dan meninghkatkan proses pembelajaran.
Rapat Dewan Guru
Rapat dewan guru merupakan pertemuan antar semua guru dan kepala sekolah yang membicarakan berbagai hal yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan dan proses pembelajaran. Maksud rapat dewan guru:
1. Mengatur seluruh anggota staff agar memiliki kesamaan tujuan
2. Mendorong anggota agar mengetahui tangung jawab masing-masing
3. Bersama-sama menentukan cara yang dapat dilakukan perbaikan PBM
4. Meningkatkan arus komunikasi dan informasi.
Kunjungan Antar Kelas
Guru dikelas yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam satu lingkungan sekolah.
Kunjungan Sekolah
Pengawas mengunjungi sekolah secara teratur untuk memberikan pembinaan, baik dengan pemberitahuan maupun mendadak atau atas undangan guru atau kepala sekolah.
Kunjungan antar sekolah
Guru-guru atau staff mengunjungi sekolah-sekolah yang dinilai berhasil dan patut dijadikan contoh. Pengawas dapat memanfaatkan guru sekolah lain untuk memberikan pembinaan.
Penerbitan buletin profesional
Buletin profesional ialah selebaran berkala yang berisi topik-topik tetentu berkaitan dengan usaha peningkatan proses belajar-mengajar. Buletin ini tidak haru sditulis oleh para ahli, tetapi semua guru atau staff yang telah mempunyai pengalaman keberhasilan dalam proses pembelajaran.
Penataran atau pendidikan dan pelatihan
Penataran atau diklat dapat dilaksanakan dari sekolah sendiri atau mengikuti program yang dilaksanakan oleh pihak-pihak tertentu.

Sumber :
http://www.rumahbelajar.web.id/tujuan-dan-teknik-supervisi-pendidikan/ tanggal 4 Desember 2016. Pukul 00.57

Standart Kompetensi Supervisi Pendidikan

1. Kompetensi kepribadian
Kepribadian=> personality =>Topeng
Kepribadian permen agama yaitu berakhlak mulia, patut di contoh, bertanggung jawab, kreatif, keinginan untuk terus belajar dan memotivasi.

2. Kompetensi Supervisi Manajerial
Kata kunci manajerial yaitu ada pada pengelolaan dan administrasi
Fungsi manajerial yaitu POAC
Planning, Organizing, Actuating dan Controling

3. Kompetensi Supervisi Akademik
Adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.

4. Kompetensi Evaluasi Pendidikan
5. Kompetensi Penilaian dan Pengetahuan
6. Kompetensi Sosial

Manajemen Peserta didik berbasis sekolah

Manajemen berbasis sekolah meliputi manajemen pembelajaran berbasis sekolah, MPDBS, managemen tenaga pendidikan berbasis sekolah, managemen prasarana dan masyarakat, manajemen layanan khusus pendidikan berbasis sekolah.
MPDBS adalah kegiatan yang bermaksud untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah.

Tujuan dan Fungsi MPDBS :
Adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Lebih lanjut, proses belajar mengajar di sekolah dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.

Sumber :
Prof.Dr. Ali Imron, M.Pd., M.Si. manajemen peserta didik berbasis sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. 2016.

Jumat, 02 Desember 2016

Macam-macam Model-model Supervisi Pendidikan Islam

Dalam setiap literatur yang penulis temui semuanya menyebutkan bahwa model-model supervisi pendidikan itu terdiri dari empat model yang ke empatnya tersebut berbeda penggunaan dengan kata lain pada penggunaan model-model ini harus sesuai dengan masalah satuan pendidikan islam agar dalam kinerja yang dilakukan sebisa mungkin akan efisien dan efektif.
1. Model Konvensional (Tradisional)
Model supervisi konvensional adalah model yang diterapkan pada wilayah yang tradisi dan kultur masyarakat otoriter dan feodal. Pada wilayah ini cenderung melahirkan penguasa yang otokrat dan korektif.
Seorang supervisor dipahami sebagai orang yang memiliki power untuk mementukan nasib guru. Karenanya, dalam perspektif
behavior , seorang yang menerapkan model ini selalu menampakkan perilaku atau aksi supervisi dalam bentuk inspeksi untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan bahkan sering kali memata-matai objek, yaitu guru. Perilaku memata-matai ini disebut dengan istilah
snoopervision (memata-matai) atau juga sering disebut sebagai supervisi korektif.
Bila diamati lebih mendalam, praktik supervisi konvensional bersifat kontradiktif dengan makna dan tujuan supervisi , yaitu membimbing kepala sekolah dan guru guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan professional mereka dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pimpinan dan pendidik di sekolah.
Memata-matai dan mencari kesalahan dalam konteks membimbing guru cenderung melahirkan inflikasi negatif terhadap perilaku itu sendiri. Wajar jika kemudian para guru merasa tidak puas, takut, menjauh, tidak akrab, acuh tak acuh, benci, bahkan menantang ( agresif ) dan malas berjumpa dengan supervisor di sekolahnya. Perasaan-perasaan yang demikian ini akan memunculkan image yang kurang baik bagi supervisor itu sendiri. Padahal kepala sekolah, guru dan supervisor adalah partner dalam memajukan pendidikan.
Model supervisi konvensional pada praktiknya sering menyebabkan supervisor yang semestinya adalah orang hebat dalam memberikan bimbingan dan pelayanan kepada kepala sekolah atau guru guna peningkatan mutu pendidikan. Apa yang sesungguhnya diharapkan
dari seorang supervisor seperti yang seharusnya dinyatakan oleh Willes dan Ngalim purwanto , yaitu seorang supervisor berurusan dengan persiapan kepemimpinan yang efektif. Untuk melaksanakan dan mengembangkan perasaan sensitivitasnya terhadap perasaan-perasaan orang lain ( kepala sekolah, guru, staf sekolah dan para peserta didik ), untuk memperluas ketetapannya tentang anggapannya terhadap kelompok mengenai hal-hal yang penting agar selanjutnya lebih dapat melaksanakan hubungan-hubungan kerja sama yang kooperatif, untuk berusaha mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi bagi dirinya sendiri, dan untuk lebih sering berhubungan dengan mereka di dalam kelompok yang bekerja dengannya.
Untuk itu, model supervisi konvensional dalam supervisi pendidikan di era reformasi seperti sekarang ini seharusnya tidak dipakai lagi oleh supervisor. Model supervisi ini sebaiknya ditinggalkan dan tidak dipaksakan untuk diterapkan supervisor dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya. Karenanya, supervisor saat ini dapat kedepan semakin berat. Tugas yang semakin berat ini mustahil bisa dikerjakan tanpa kolaborasi, menjalin kerja sama dan berhubungan secara harmonis, dan ber-partner dengan pihak-pihak terkait seperti kepala sekolah, guru, staf sekolah, peserta didik, dan semua unsur pimpinan disekolah.
Keterkaitan konsep terkait dengan model-model supervis dalam pendidikan yang telah teruji dan mampu memperbaiki keterpurukan lembaga pendidikan dan proses pembelajaran yang tidak menguntungkan merupakan merupakan alternatif pilihan yang harus dipahami dan diaplikasikan supervisor pendidikan di dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya, dan sudah tentu harus mempertimbangkan kondisi nyata, objektivitas, dan aspirasi pihak-pihak yang akan disupervisi.
Permasalahannya sebenarnya tujuan dari supervisor tersebut baik namun cara mengomunikasikannya itu kurang bisa menyikapi apa yang dibutuhkan oleh kepala sekolah, guru dan staf lainnya, apabila kita bisa mengomunikasikannya secara baik-baik,dengan menggunakan bahasa penerimaan bukan penolakan, yang nantinya guru akan sadar dengan sendirinya untruk memperbaiki kesalahannya.
2. Model Artistik
Mengajar adalah suatu pengetahuan. Mengajar merupakan keterampilan tetapi juga suatu seni. Sejalan dengan tugas pengajar dan pendidik yang kegiatannya memerlukan pengetahuan, keterampilan dan seni.jadi, model supervisi artistik yang dimaksudkan disini adalah ketika supervisor melakukan kegiatan supervisi dituntut berpengetahuan, berketerampilan, dan tidak kaku dalam kegiatan supervisi juga mengandung nilai seni ( Art ).
Model supervise artistik mendasarkan diri pada bekerja untuk orang kain ( working for the others), bekerja dengan oranng lain ( working with the others), dan bekerja melalui orang lain ( working through the others) .
Supervisor dalam model supervisi artistik ini ingin menjadikan kepala sekolah, guru, dan staf sekolah menjadi dirinya sendiri, diajak bekerja sama, saling tukar dan konstribusi ide pemikiran, memutuskan dan menetapkan bagaimana seharusnya mengelola sekolah yang baik dan guru mengajar dengan baik untuk sama-sama berusaha meningkatkan mutu pendidikan.
Pada praktiknya, model supervisi artistik ini mempunyai beberapa ciri khusus yang harus diperhatikan oleh supervisor sebagai berikut.
a) Memerlukan perhatian khusus agar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara
b) Memerlukan tingkat perhatian yang cukup dan keahlian yang khusus untuk memahami apa yang dibutuhkan oleh orang
c) Mengutamankan sumbangan yang unik dari guru-guru untuk mengembangkan pendidikan bagi generasi muda.
d) Memerlukan laporan yang menunjukan bahwa dialog antara supervisor dengan yang disupervisi dilaksanakan atas dasar kepemimpinan dari kedua belah pihak.
e) Memerlukan kemampuan berbahasa tentang cara mengungkapkan apa yang dimilikinya terhadap orang lain.
f) Memerlukan kemampuan berbahasa tentang cara mengungkapkan apa yang dimilikinya terhadap orang lain.
g) Memerlukan kemampuan untuk menafsirkan makna dari peristiwa yang diungkapkan sehingga memperoleh pengalaman dan mengapresiasi dari apa yang dipelajarinya.
h) Menujukkan fakta bahwa sensivitas dan pengalaman merupakan instrument utama yang digunakan sehingga situasi pendidikan itu diterima dan bermakna bagi orang disupervisi.
3. Model Ilmiah
Supervisi ilmiah sebagai sebuah model dalam supervisi pendidikan dapat digunakan
oleh supervisor untuk menjaring informasi atau data dan menilai kinerja kepala sekolah dan guru dengan cara menyebarkan angket.
Model supervisi ilmiah menurut Sahertian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a) Dilakukan secara berencana dan kontinu.
b) Sistematis dan mengutamakan prosedur dan metode / teknik tertentu
c) Menggunakan instrument pengumpulan data yang tepat.
d) Menggunakan alat penilaian berupa angket yang mudah dijawab.
e) Angket disebar kepada siswa atau guru-guru sejawat.
Para siswa atau mahasiswa dapat menilai proses pengajaran guru atau dosen dengan menggunakan check list dan nantinya hasil penelitian tersebut diberikan kepada guru untuk dijadikan evaluasi terhadap kinerja guru untuk digunakan sebagai perbaikan pada semeseter selanjutnya.
4. Model Klinis
Morris Cogan mendefenisikan clinical supervision sebagai latar dan praktik yang didesain untuk mengembangkan performa guru dikelas. Senada dengan pendapat tersebut, Flander melihat pengawasan clinical sebagai sebuah teaching khusus yang mana setidaknya ada dua orang yang bersangkutan yang akan diperbaiki. Kegiatan ini juga untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja guru dan merangsang perubahan dalam mengajar. Oleh karena itu, mengajar merupakan suatu usaha membimbing kegiatan siswa yang baik, baik dari mental rohani maupun jasmani.
Supervisi klinis termasuk juga dari bagian supervisi pengajaran. Dikatakan sebagai supervisi klinis karena prosedur pelaksanaanya lebih ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang terjadi di dalam proses belajar-mengajar, dan kemudian secara langsung pula diusahakan bagaimana cara memperbaiki kelemahan atau kekurangan tersebut.
Selanjutnya, model supervisi klinis ini mempunyai beberapa ciri-ciri sebagai berikut.
a) Bantuan yang diberikan bukan bersifat instruksi atau memerintah.
b) Harapan dan dorongan timbul dari guru itu sendiri
c) Guru memiliki satuan tingkah laku mengajar yang terintegrasi.
d) Suasana dalam pemberian supervisi penuh kehangatan, kedekatan, dan keterbukaan.
e) Instrument yang digunakan untuk observasi disusun atas dasar kesepakatan antara guru dengan supervisor.
Sementara prinsip-prinsip model supervisi klinis, antara lain sebagai berikut :
1. Pelaksanaan supervisi
harus berdasarkan inisiatif dari guru lebih dahulu
2. Menciptakan hubungan manusiawi yang bersifat interaktif dan rasa kesejawatan.
3. Menciptakan suasana bebas untuk mengemukakan apa yang dialaminya.
4. Objek kajiannya adalah kebutuhan professional guru yang riil dan alami.
Jadi, model supervisi klinis dapat dikatakan bertujuan untuk mengadakan perubahan terhadap perilaku, cara, dan mutu mengajar guru yang sistematik. Model ini difokuskan pada peningkatan mengajar melaui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang interaktif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.
Model supervisi pendidikan islam ini lebih difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang insentif, yang cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.
Menurut tahapan operasional model supervisi klinis dalam supervisi pendidikan dilakukan melalui suatu siklus-siklus yang terdiri dari tiga siklus sebagai berikut.
Tahap pertemuan awal ( perencanaan )
Pada tahap ini, supervisor dan guru perlu membangun komunikasi,
menyatukan persepsi, menciptakan suasana yang harmonis, terbuka, dan akrab. Tahap ini snagat fundamental dan teknis. Selain itu, perlu melkukan diskusi mendalam tentang konsep model supervisi klinis, tujuanm dan bagaimana operasionalnya. Adapun kativitas dalam tahap ini adalah:
a) Menciptakan suasana terbuka.
b) Mengkaji dan mendiskusikan rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran.
c) Menentukan fokus observasi.
d) Menentukan alat bantu observasi.
e) Menentukan teknik pelaksanaan observasi.
Tahap pelaksanaan observasi
Pada tahap pelaksanaan observasi, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dikelas sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati pada tahap pertemuan awal. Kondisi yang kondusif perlu dijaga sehingga pada pelaksanaan proses pemebeljarana dikelas tidak tersa kaku dan tidak mengganggu proses pembeljaran, namun sebaliknya sangat fleksibel, luwes, terukur. Dan professional. Adapun aktivitas yang berlangsung dalam tahap ini adalah.
a) Supervisor dan guru memasuki ruang kelas tempat berlangsung kegiatan pembelajaran secara bersamaan dan mengatur posisi masing-masing tanpa harus mengganggu proses pembelajaran yang telah direncanakan.
b) Guru menjelaskan maksud kedatangan supervisor dikelas dengan bahasa yang sederhana.
c) Guru menjalankan pembelajaran seperti biasanya.
d) Supervisor mengobservasi dan mencatat penampilan guru berdasarkan format observasi yang sudah di format sebelumnya.
e) Setelah proses pembelajaran, guru atau ruang keluar dari kelas dan menuju ruang guru atau pembinaan guru untuk mendiskusikan hasil observasi.
Tahap akhir ( analisis dan Diskusi Balikan )
Pada tahap akhir siklus model supervisi klinis adalah analisis hasil pasca-observasi. Supervisor mengevaluasi semua kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru tahap demi tahap dengan tujuan untuk memperbaiki
performance guru. Adapun beberapa aktivitas yang ada dalam tahap ini adalah:
a) Supervisor sgaring dengan guru terima terkait dengan perasaan guru ketika mengajar untuk menciptakan suasana yang bersahabat sehingga guru tidak merasa diadili.
b) Supervisor memberikan penguatan terhadap kegiatan pembelajaran dikelas.
c) Supervisor dan guru membicarakan kelanjutan kontrak yang telah disepakati berasama.
d) Supervisor menjelaskan dan menunjukkan hasil observasi yang telah diinterpretasi, memberikan kesempatan kepada guru guru untuk
mempelajari dan menginterpretasi, selanjutnya mendiskusikan bersama.
e) Menanyakan kembali bagaiman perasaan guru setelah bersama.
f) Bersama-berasama supervisor dan guru membuat kesimpulan dari hasil observasi ini.

DAFTAR RUJUKAN

Abd. Kadim Masaong, Abd. Kadim.
Supervisi Pembelajaran dan Perkembangan Kapasitas Guru.
Bandung : Alfabeta, 2012.

Asf, Jasmani & Syaiful Mustofa,
Supervisi Pendidikan . Jogjakarta : Ar-ruzz Media, 2013.

Maryono, Dasar- Dasar & Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan . Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011.

Purwanto, M. Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan .
Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009.

Sahertian, Piet A. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Perkembangan SDM .
Jakarta : PT Rineka Cipta, 2010