Hari
ini ingiku menuliskan kisah kuliahku.
Saya
adalah anak kelima dari enam bersaudara. Ibuku sangat mendukung anak-anaknya
untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Namun hanya aku dan
adikku yang sampai perguruan tinggi. Kakak-kakakku belum bisa melanjutkan
keperguruan tinggi salah satunya karena dulu terkendala dengan biaya sekolah.
Pas ada biaya namun sayangnya uang itu dipinjam oleh seseorang dan tidak
dikembalikan.
Tidak semua kakakku semangat sekolah. Ada yang semangat sekali
sekolah tapi karena masalah uang yang tidak dikembalikan tersebut. Membuat
kakakku tidak jadi melanjutkan sekolah. Meskipun kakakku tidak jadi melanjutkan
sekolah tetapi mereka itu kreatif. Jadi dengan kemampuan kreatifnya bisa
membuka usaha sendiri.
Alhamdulillahnya saya bisa melanjutkan sekolah. Semua itu tidak terlepas dari
dukungan ibuku. Ibuku selalu menyemangatiku untuk sekolah. Ibaratnya makan lauk
sambel aja tidak apa-apa dan uangnya untuk biaya sekolah aku dan adikku.
Ibuku selalu mengutamakan keperluan sekolah. Terlebih adikku
kuliah di Malang. Jadi sangat banyak kebutuhan yang dikeluarkan. Ibuku sering
menyimpan uang demi keperluan adikku disana.
Karena aku kuliah disini yaitu IAIN Tulungagung dan dekat dengan rumahku. Tidak
banyak uang yang harus dikeluarkan. Dan yang pasti tidak perlu kos. Jadi lebih
hemat biaya.
Sering saya mengalah untuk uang saku kuliah yang sedikit. Karena harus
dikumpulkan demi untuk adikku disana.
Tak membuatku patah semangat hanya dengan masalah itu. Jadi aku
mencari tambahan uang dengan berjualan on line. Lumayan uangnya bisa untuk
tambahan uang jajan dan membeli keperluan kuliah. Saya tidak malu jika harus
berjualan on line. Kenapa harus malu dengan hal yang baik. Banyak teman dikelas
yang menyindir, entah itu hanya bercanda atau tidak. Anggap saja itu candaan.
Dan nyatanya sekarang setelah lulus dari kuliah mereka juga berjualan online.
Saya kuliah mengambil jurusan PAI. Sebenarnya tidak nyambung
dengan riwayat sekolahku. Saya sekolah di SDN, SMPN, dan SMKN dengan jurusan
Administrasi Perkantoran. Lalu saya kuliah dengan mengambil jurusan PAI. Sama
sekali tidak nyambung. Saya sebenarnya suka dengan ilmu agama sejak
kecil. Sampai setelah lulus SD minta dipondokkan. Tetapi tidak diperbolehkan.
Setelah lulus Smp ingin melanjutkan di MAN. Sama saja tidak diperbolehkan
dengan bapak. Mungkin sekolah yang berbasis islam dulu itu dianggap belum maju.
Jadi tidak boleh sekolah dilembaga yang basicnya lebih mengajarkan agama.
Setelah lulus dari SMK saya memutuskan untuk mengambil jurusan
PAI. Betapa banyak lika liku yang harus saya hadapi dengan pengambilan jurusan
yang saya sendiri belum memiliki kemampuan dibidang itu.
Harus menghafal hadist, belajar menulis khat, hafalan surat-surat pendek, dan
masih banyak lainnya. Hampir saya tidak kuat dengan rutinitas yang jauh sangat
berbeda dengan sekolahku dulu. Banyak temanku yang merasa salah jurusan keluar.
Saya juga ingin rasanya keluar. Karena merasa kesulitan sekali belajar mulai
dari awal. Namun teringat motivasi dari salah satu guru saya yaitu jika
terbiasa berhenti sebelum selesai. Hal itu akan terbawa saat dikehidupan
setelah lulus sekolah.
Sedangkan teman sekelas lainnya berasal dari pondok dan MAN. Ada
yang tidak berasal dari MAN tetapi keluarganya sangat kental sekali dengan ilmu
agama. Jadi temanku itu tidak terlalu kesulitan dengan jurusan PAI. Berbeda
denganku yang dari keluarga biasa-biasa saja. Alhamdulillahnya saya mampu
bertahan di jurusan ini. Dengan banyak perjuangan. Sampai badan saya kurus
banget. Apalagi saya tipe orangnya sulit menghafal dan mudah lupa dengan ilmu
yang didapatkan dengan memaksa hafalan. Dan jurusan ini menuntut kita harus
hafal berbagai hadist. Tetapi saya masih berusaha berjuang sedikit-sedikit
untuk menghafalkannya.
Setelah selesai lulus dari S1 saya melanjutkan lagi kuliah
S2. Tidak saya sangka mampu melanjutkan kuliah lagi dengan jurusan yang sama. Saya
yakin dan percaya bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
.sekian cerita motivasi pejuang salah jurusan.
Tetap
semangat teman-teman.
Salam penulis pemula
Saya adalah anak kelima dari enam bersaudara. Ibuku sangat mendukung anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Namun hanya aku dan adikku yang sampai perguruan tinggi. Kakak-kakakku belum bisa melanjutkan keperguruan tinggi salah satunya karena dulu terkendala dengan biaya sekolah. Pas ada biaya namun sayangnya uang itu dipinjam oleh seseorang dan tidak dikembalikan.
Alhamdulillahnya saya bisa melanjutkan sekolah. Semua itu tidak terlepas dari dukungan ibuku. Ibuku selalu menyemangatiku untuk sekolah. Ibaratnya makan lauk sambel aja tidak apa-apa dan uangnya untuk biaya sekolah aku dan adikku.
Karena aku kuliah disini yaitu IAIN Tulungagung dan dekat dengan rumahku. Tidak banyak uang yang harus dikeluarkan. Dan yang pasti tidak perlu kos. Jadi lebih hemat biaya.
Sering saya mengalah untuk uang saku kuliah yang sedikit. Karena harus dikumpulkan demi untuk adikku disana.
Harus menghafal hadist, belajar menulis khat, hafalan surat-surat pendek, dan masih banyak lainnya. Hampir saya tidak kuat dengan rutinitas yang jauh sangat berbeda dengan sekolahku dulu. Banyak temanku yang merasa salah jurusan keluar. Saya juga ingin rasanya keluar. Karena merasa kesulitan sekali belajar mulai dari awal. Namun teringat motivasi dari salah satu guru saya yaitu jika terbiasa berhenti sebelum selesai. Hal itu akan terbawa saat dikehidupan setelah lulus sekolah.
Salam penulis pemula
