Minggu, 19 Juli 2020

Saljur (Salah Jurusan)

Hari ini ingiku menuliskan kisah kuliahku.



        Saya adalah anak kelima dari enam bersaudara. Ibuku sangat mendukung anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Namun hanya aku dan adikku yang sampai perguruan tinggi. Kakak-kakakku belum bisa melanjutkan keperguruan tinggi salah satunya karena dulu terkendala dengan biaya sekolah. Pas ada biaya namun sayangnya uang itu dipinjam oleh seseorang dan tidak dikembalikan.
Tidak semua kakakku semangat sekolah. Ada yang semangat sekali sekolah tapi karena masalah uang yang tidak dikembalikan tersebut. Membuat kakakku tidak jadi melanjutkan sekolah. Meskipun kakakku tidak jadi melanjutkan sekolah tetapi mereka itu kreatif. Jadi dengan kemampuan kreatifnya bisa membuka usaha sendiri.
Alhamdulillahnya saya bisa melanjutkan sekolah. Semua itu tidak terlepas dari dukungan ibuku. Ibuku selalu menyemangatiku untuk sekolah. Ibaratnya makan lauk sambel aja tidak apa-apa dan uangnya untuk biaya sekolah aku dan adikku.
Ibuku selalu mengutamakan keperluan sekolah. Terlebih adikku kuliah di Malang. Jadi sangat banyak kebutuhan yang dikeluarkan. Ibuku sering menyimpan uang demi keperluan adikku disana.
Karena aku kuliah disini yaitu IAIN Tulungagung dan dekat dengan rumahku. Tidak banyak uang yang harus dikeluarkan. Dan yang pasti tidak perlu kos. Jadi lebih hemat biaya.
Sering saya mengalah untuk uang saku kuliah yang sedikit. Karena harus dikumpulkan demi untuk adikku disana.
Tak membuatku patah semangat hanya dengan masalah itu. Jadi aku mencari tambahan uang dengan berjualan on line. Lumayan uangnya bisa untuk tambahan uang jajan dan membeli keperluan kuliah. Saya tidak malu jika harus berjualan on line. Kenapa harus malu dengan hal yang baik. Banyak teman dikelas yang menyindir, entah itu hanya bercanda atau tidak. Anggap saja itu candaan. Dan nyatanya sekarang setelah lulus dari kuliah mereka juga berjualan online.
Saya kuliah mengambil jurusan PAI. Sebenarnya tidak nyambung dengan riwayat sekolahku. Saya sekolah di SDN, SMPN, dan SMKN dengan jurusan Administrasi Perkantoran. Lalu saya kuliah dengan mengambil jurusan PAI. Sama sekali tidak nyambung.  Saya sebenarnya suka dengan ilmu agama sejak kecil. Sampai setelah lulus SD minta dipondokkan. Tetapi tidak diperbolehkan. Setelah lulus Smp ingin melanjutkan di MAN. Sama saja tidak diperbolehkan dengan bapak. Mungkin sekolah yang berbasis islam dulu itu dianggap belum maju. Jadi tidak boleh sekolah dilembaga yang basicnya lebih mengajarkan agama.
Setelah lulus dari SMK saya memutuskan untuk mengambil jurusan PAI. Betapa banyak lika liku yang harus saya hadapi dengan pengambilan jurusan yang saya sendiri belum memiliki kemampuan dibidang itu.
Harus menghafal hadist, belajar menulis khat, hafalan surat-surat pendek, dan masih banyak lainnya. Hampir saya tidak kuat dengan rutinitas yang jauh sangat berbeda dengan sekolahku dulu. Banyak temanku yang merasa salah jurusan keluar. Saya juga ingin rasanya keluar. Karena merasa kesulitan sekali belajar mulai dari awal. Namun teringat motivasi dari salah satu guru saya yaitu jika terbiasa berhenti sebelum selesai. Hal itu akan terbawa saat dikehidupan setelah lulus sekolah.
Sedangkan teman sekelas lainnya berasal dari pondok dan MAN. Ada yang tidak berasal dari MAN tetapi keluarganya sangat kental sekali dengan ilmu agama. Jadi temanku itu tidak terlalu kesulitan dengan jurusan PAI. Berbeda denganku yang dari keluarga biasa-biasa saja. Alhamdulillahnya saya mampu bertahan di jurusan ini. Dengan banyak perjuangan. Sampai badan saya kurus banget. Apalagi saya tipe orangnya sulit menghafal dan mudah lupa dengan ilmu yang didapatkan dengan memaksa hafalan. Dan jurusan ini menuntut kita harus hafal berbagai hadist. Tetapi saya masih berusaha berjuang sedikit-sedikit untuk menghafalkannya.
Setelah selesai lulus dari S1  saya melanjutkan lagi kuliah S2. Tidak saya sangka mampu melanjutkan kuliah lagi dengan jurusan yang sama. Saya yakin dan percaya bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

.sekian cerita motivasi pejuang salah jurusan.

Tetap semangat teman-teman.
Salam penulis pemula

cerita si Penulis Pemula



Keluh kesah yang dirasakan bagi seorang penulis awal yang masih dalam proses belajar. Suka dengan dunia menulis namun bingung dengan apa yang mau ditulis. Ternyata tidak dirasakan oleh diriku saja, banyak teman pemula lainnya yang juga seperti diriku ini. 
Penulis pemula menurutku diibaratkan seperti seseorang yang sedang dalam perjalanan kedaerah yang belum pernah dilewati. Sehingga membuat orang tersebut bingung dengan arah jalan tersebut. Seperti  perjalananku hari ini di Jombang karena pulang dari rumah saudara terlalu malam, membuatku dan suami bingung dengan arah jalannya. Saya menebak mungkin ini ke Selatan, suami bilang menurutku ini ke Barat. Dari jauh terlihat ada masjid. Bearti benar suamiku bahwa kita sedang berada kearah Barat.
Jadi penulis awal seperti halnya orang baru di daerah baru. Itu menurut versi saya. 
Benar apa yang dikatakan oleh bapak dosen Ngainun Naim bahwa  menulis itu lebih sulit dari pada berbicara. Orang saat bertemu langsung bisa berbicara dari topik satu pindah ke topik lainnya dalam waktu bersamaan. Sedangkan orang yang menulis harus bisa mempertahankan inti tulisannya. 
Dan saya merasa tulisan ini masih seperti berpindah-pindah topik. 
Teringat juga kata-kata ini bahwa tulisan yang baik dan bagus tidak langsung didapatkan secara langsung. Mereka melalui banyak proses dari awal. Menulis adalah proses. Kata-kata ini saya dapatkan dari melihat vidio bapak dosen yang selalu memberikan motivasi menulis yaitu bapak Ngainun Naim. Didalam video itu menjelaskan makna menulis salah satunya menurut Ibu Ratna Indraswari Ibrahim:" menulis itu belajar yang tidak berkesudahan". Maknanya sepanjang hidupnya harus belajar, bukan hanya belajar pada menulis namun harus belajar memperkaya informasi untuk mendukung kepenulisannya. Menurut yang kedua menulis harus dilakukan dengan rasa senang dan menurut yang ketiga upaya yang dilakukan dalam mewariskan ilmu pengetahuan, sepandai apapun seseorang apabila tidak menulis maka dia tidak akan dikenang oleh banyak orang.  Seperti contoh buku-buku yang ditulis oleh Imam Al Gozali yang sudah wafat namun bukunya masih dikenal oleh banyak orang sampai sekarang dan membawa manfaat bagi pembacanya.
Banyak orang yang berkeinginan menulis, namun hanya sebatas ingin. Jadi jika ingin menulis segeralah untuk menulis. Tidak ada alasan apapun untuk menulis. Jika alasannya sibuk, semua orang di dunia ini pasti memiliki kesibukan.  Kurang lebih isi video tersebut seperti itu. 
Kesimpulannya menurut saya marilah kita terus belajar menulis, walaupun tulisan itu masih aneh untuk dibaca. 
Salam penulis pemula 😊

Menerima kritik dan saran 
Trimakasih sudah membaca 😊


Sabtu, 18 Juli 2020

Masih Tentangmu

Tentangmu Tugas Akhir Kuliah
Aku kira hanya aku yang merasakan rasa dredek (gemetar) saat melihat beberapa teman yang sudah ujian tesis kemarin tanggal 15 Juli 2020. Ternyata beberapa temanku yang lain juga merasakan hal itu, terlihat dari chat salah satu temanku. Dia mengeluhkan bahwa merasa dredek. Entah kenapa rasa itu muncul. Padahal aku dan temanku itu belum daftar ujian sidang, namun masih proses menuju daftar sidang. Hehehe
Memang terlihat sedikit aneh, dan mungkin itu hal wajar.
Coba kita flashback ke masalalu yaitu saat kita duduk dibangku sekolah dasar dan sampai sekarang ini. pastinya juga sering mengikuti exsame atau (ujian) di sekolah. Lalu mengapa kita masih saja merasakan rasa takut, dredek, grogi dll. Padahal ujian sekolah sudah sering sekali kita lakukan.
Apa karena beda jenjang jadi rasa tegangnya berbeda.
Atau mungkin karena semakin tinggi sekolahnya untuk ujiannya semakin berbeda kesulitannya. Seperti ujian Tesis ini yang dihadapkan dengan 4 dosen penguji.
Untuk tahun ini ujian dilaksanakan dengan on Line atau bisa juga disebut daring, dikarenakan adanya Covid 19. Ujian dilakukan secara Online guna untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Kata salah satu kakak tingkatku. "Tahunmu beruntung dilakukan ujian secara online", Lalu saya tanya balik, "kenapa begitu?", jawabnya: "dengan ujian online akan mengurangi rasa dredek ketika berhadapan langsung dengan 4 dosen penguji". Menurutku benar juga sih pernyataan itu. Tapi kita harus tetap semangat dan jangan lupa untuk tetap mempersiapkan diri dengan sematang mungkin dalam menguasai isi tesis. Supaya nanti saat ujian, jadi lebih maksimal hasilnya. Karena menurutku jika kita bisa menguasai dan faham isi tesis, maka rasa dredek itu akan terkalahkan dengan keyakinan diri bahwa kita mampu menghadapi tantangan tersebut.
Alhamdulillah tanggal 14 Juli 2020, Tesisku sudah mendapat Acc dari dosen pembimbing pertama dan keduaku.
Sedikit revisi di bab IV untuk menambah tabel hasil hipotesis dan bab V diminta oleh dosen pembimbing keduaku untuk menambah penguat hasil penelitian dengan jurnal. Setelah mendapat Ttd Acc inginku segera merevisi tetapi leptopku yang sering Error dengan munculnya tulisan Not Responding. Jika tulisan itu keluar tiba-tiba siLeptop tidak mau digunakan dan aku harus menunggu beberapa menit untuk bisa kembali normal kembali. 
Perjuangan sekali dalam menyelesaikan tugas akhir kuliah ini. Aku yang harus mengerjakan sambil menjaga anak pertamaku yang masih kecil. Anak pertamaku yang aku dan suami beri nama zaidan al- Gibran masih berusia 3 bulan saat ini. Dalam mengerjakan tugas ini, aku harus menunggunya tidur dulu atau saat anakku dijaga ibuku. Ibuku sangat telaten (sabar) dalam menjaganya. Oleh ibuku sering digendong agar dia merasa nyaman dan tertidur pulas. Thank mom. Sudah membantu menjaganya, sehingga tugas ini selesai. Terimaksih juga untuk suamiku sudah membelanjakan buku pendukung tugas dan menemani bimbingan.
Saat mengerjakan siTesis aku sering tidur larut malam dan bisa sampai pagi kadang jam 02.00 dan kadang juga bisa sampai subuh. Sering merasa ngantuk sekali, karena siangnya juga tidak tidur, sibuk menjaga anak dan lain-lainya. Namun saat ngantuk mulai datang aku memotivasi diri ini dengan mengatakan “Nuruti Ngantuk Kapan Selesainya?”. Dengan munculnya kalimat itu membuat saya semangat lagi untuk segera selesai. Dalam proses pengerjaan tugas akhir kuliah ini sering mengalami hambatan karena bimbingan on line kurang memahamkan. Sehingga perlu belajar sendiri. Karena belajar sendiri masih membuat saya bingung dengan rumus-rumus yang akan saya gunakan yang mana saja. Saya mengajak teman-teman untuk belajar bersama dirumahku dan meminta tolong temanku S1 yang penelitiannya Non Eksperimen supaya membagi ilmunya kepadaku.
Karena dulu saya menggunakan Eksperimen jadi kurang paham dengan yang Non eksperimen. Jika belajar dengan membaca buku membutuhkan waktu lama. Jadi saya memutuskan dengan cara cepat yaitu dengan meminta bantuan belajar bersama dengan teman yang pernah melakukan metode penelitian itu. Ini adalah foto dengan anggota belajar kelompok dalam menyelesaikan tugas akhir kuliah. Bersama Dilla Yulia, Ali Maksum, Hasbi, dan Falikhul. Temanku Ali Maksum ini belum melanjutkan S2, tapi dia tidak kalah cerdasnya dengan anak S2. Dia masih sangat tajam sekali ingatannya mengenai metode penelitian dan pengunaan SPSS. Dia temanku S1 dulu yang aku mintai tolong mengajari belajar dengan penelitian yang menggunakan Non Eksperimen.


        Baju kuning belakangku yaitu Dilla Yulia yang diminta Dospemnya  untuk menggunakan Smart.PLS dalam proses menghitung data. Masih belajar dengan cara itu. Dan penelitiannya belum selesai. Semoga segera dimudahkan dan diberi kelancaran dalam menyelesaikanya. AAMIIN
TIPS motto penyemangat supaya tidak malas dari aku yaitu HARI INI TIDAK BOLEH MALAS, BESOK BOLEH.
Bukan dari aku sih itu, motto itu aku dapatkan dari dosen IAIN TA saat saya mengikuti OSPEK di kampus dulu.
Moment Of Waw sekali bisa menyelesaikan tulisan ini. Alhamdulillah.
Saran dan kritiknya bisa ditulis dikomentar. Trimakasih :)