Selasa, 06 Desember 2016

Tugas 11 dan 12 profesi keguruan

Tugas 11. Peranan Kecerdasan Intelegensi dan Emosi bagi guru PAI .
Contoh :
mahasiswa dipertontonkan kepada sebuah film tentang operasi sunat tanpa bius yang dilakukan oleh suku Aborigin sebagai bagian dari pubertas (Speisman & others, 1964). Grup pertama menonton film tersebut tanpa soundtrack. Grup kedua mendengar soundtrack yang menekankan pada rasa sakit yang dialami anak laki-laki.Grup ketiga mendengar soundtrack yang menjelaskan tentang operasi diluar jalur yang intelektual.Grup keempat mendengar soundtrack yang tidak mementingkan operasi yang menyakitkan dengan cara membicarakn tentang hal yang tidak relevan.
Meskipun semua siswa menonton film yang sama, soundtracklah yang mempengaruhi interpretasi kognitif dari apa yang mereka lihat. Grup yang mendengar soundtrack yang menekankan pada rasa sakitnya operasi menunjukkan Gairah yang lebih besar daripada grup yang tidak mendengar soundtrack sama sekali. Soundtrack yang menekankan pada rasa sakit lebih menunjukkan interpretasi sebagai film yang menjengkelkan. Grup yang mendengar soundtrack yang tidak menekankan pada emosi alamiah dari kejadian tersebut, baik dengan cara mengintelektualkan ataupun tidak mementingkannya menunukkan gairah yang lebih sedikit. Tampaknya, interpretasi kognitif (didorong oleh soundtrack) mengubah arti emosional dari film secara luas.

Sumber: Lahey, B. Benjamin. 2012. Psychology
An Introduction.New York: McGraw-Hill

Argumentasi :
Emosi adalah keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, keberanian yang bersifat subjektif. Pada tahun 1899, Charles Darwin dengan penelitiannya tentang emosi manusia. Menjadikan objeknya berupa rasa takut dan emosi yang memperhatikan fungsi dari emosi terhadap hewan dan manusia. Salah satu pandangannya yang luas adalah tentang emosi yang berevolusi dari waktu ke waktu melalui seleksi alam. (Cacioppo & others, 1999) menurut pandangan ini 2 golongan umum tentang emosi adalah kelangsungan hidup dengan adaptasi dan seleksi alam. (Cacioppo & others, 1999) ) binatang termasuk juga manusia yang bereaksi terhadap rangsangannya yang berbahaya (seperti ular berbisa) dengan mengalami emosi akan mencegah rangsangan yang berbahaya dan untuk bertahan hidup. Begitu pula, hewan yang bereaksi terhadap stimulasi yang bermanfaat (seperti teman-teman dan makanan) bersama emosi positif yang ada pada diri mereka dan akan lebih mungkin untuk dapat bertahan hidup dan bereproduksi (Damasio, 2001). Jadi, emosi negatif dan emosi positif adalah kunci kita bertahan hidup .
1. Emosi manusia dibedakan dalam dua bagian:
· Emosi positif (emosi yang menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan positif pada orang yang mengalaminya, diantaranya adalah cinta, sayang, senang, gembira, kagum, dan sebagainya.
· Emosi negatif (emosi yang tidak menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya, diantaranya adalah sedih, marah, benci, takut dan sebagainya.
2. Kemarahan dan ketakutan identik berhubungan dengan emosinal. Ada banyak alasan untuk percaya bahwa ketakutan dan kemarahan terdapat dalam banyak variasi dari emosi yang sama. Ide ini berawal pada ‘flight or fight’ sindrom dijelaskan dalam Williams james, buku teks psikologi pertama di terbitkan pada tahun 1980. Emosi negative yang intens mempersiapkan individu untuk lari dari ketakutan atau melawan dalam kemarahan. Dua emosi pada dasarnya identik di tingkat psikologi, tetapi banyak faktor menentukan apakah emosi akan mengalami ketakutan atau kemarahan.
3. Hubungan cinta dengan emosinal, banyak ahli menganggap cinta berbeda dengan emosi lainnya. Memang, pengalaman cinta yang romantis sering melibatkan banyak emosi yang seluruh pada peta emosional.
3 teori emosi
penjelasan psikologis emosi membedakan unsure-unsur dasar yang sama dari pengalaman emosi:
(a) adanya situasi stimulus yang menimbulkan reaksi.
(b) adanya pengalaman sadar atau“emosi” yang kita rasakan.
(c) adanya perubahan yang terjad diotak, system saraf otonom dan kelenjar endoktrin yang menciptakan gairah fisiologis pada organ visceral.
(d) adanya kaitan perilaku yang pada umumnya menyertai emosi
Contoh: pada hewan yang takut, gemetar, kemudian lari.
3 teori utama mengemukakan tentang penjelasan cara kerja emosi
James-LangeTheory
umumnya melihat emosi sebagai stimulus seperti melihat seorang perampok yang membuat kita sadar, merasa takut dan sadar akan ketakutan. Bagaimanapun, William James (1890) menyarankan bahwa unsur-unsur emosi terjadi dalam urutan yang berlawanan . Ia percaya bahwa stimulus emosional yang diarahkan (oleh pusat relay sensorik dikenal sebagai thalamus) langsung ke system limbic , yang beroperasi melalui hipotalamus dan pembagian simpatik dari sistem saraf otonom untuk mengaktifkan bagian-bagian tubuh untuk mengatasi kondisi darurat (ketegangan otot, berkeringat, peningkatan denyut jantung dan pernapasan dan sebagainya) . Sensasi dari gairah tubuh tersebut kemudian dikirim kembali ke korteks dan menghasilkan perasaan sadar akan emosi kita. Menurut James, “Kita merasa menyesal karena kita menangis, marah karena kita emosi, takut karena kita gemetar.” Beberapa tahun kemudian , ahli fisiologi Denmark Carl Lange (1922) dengan pendiriannya mengusulkan teori yang sama, sehingga dikenal sampai hari ini sebagai James-Lange Theory of Emotion .

Sumber:
1. Lahey, B. Benjamin. 2012. Psychology
An Introduction.New York: McGraw-Hill

2. http://psikologiusu.blogspot.com/2015/08/makalah-pengantar-psikologi-emosi.html?m=1 diakses tanggal 7 Desember 2016

Tugas ke 12 peranan kecerdasan Spiritual dan kreatifitas guru

Contoh:

Guru PAI di Smpn 1 kauman mengajar dengan cara siswa berkelompok. Setelah itu siswa di minta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok

argumentasi:

1. Berpikir inovatif

Jiwa yang kreatif terlahir dari sebuah pemikiran guru yang selalu ingin berinovasi sehingga selalu bervariasi dalam memberikan materi pelajaran kepada anak didiknya.

2. Percaya diri

Tentu saja sifat percaya diri dan selalu ingin berkembang ada pada diri guru yang kreatif. Tidak mudah memang menjadi seorang guru yang kreatif, karena apa pun karya yang dia ciptakan harus kembali kepada anak didiknya. Keberhasilan seorang guru yang kreatif terletak pada kepuasan siswa setelah menerima materi pelajaran yang diberikan. Kalau pun anak didik merasa tidak suka atau tidak puas, guru yang kreatif seharusnya peka dalam hal ini. Langkah selanjutnya, dia akan mencoba mencari metode mengajar yang lain. Metode pengajaran yang sesuai dengan selera dan kemampuan anak didiknya. Tapi bagi saya, masalah siswa puas atau senang dengan metode pelajaran yang kita berikan adalah urusan belakangan. Yang terpenting adalah sikap pantang menyerah untuk selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anak didiknya. Karena apa pun metode pengajaran yang diberikan, bila bervariasi, maka siswa pasti tidak akan bosan.

3. Materi Pelajaran yang Diberikan Menjadi Mudah Dimengerti

Tidaklah mudah mentransfer ilmu dari seorang guru menuju ke anak didiknya. Namun itulah tantangan yang biasanya dihadapi oleh seorang guru. Namun seorang guru yang kreatif akan selalu mencoba berbagai cara agar anak didiknya mudah memahami materi pelajaran yang diberikan.

4. Terus Belajar dan Belajar

Tidak ada kata puas bagi seorang guru yang kreatif. Bukan tidak ada kata puas yang negative. Namun kata “tidak puas” bagi seorang guru yang kreatif adalah suatu semangat untuk terus mengembangkan diri demi kebaikan diri sendiri, anak didik, dan sekolah.

5. Cerdas Dalam Menemukan Talenta Anak Didiknya

Karena tingkat kepekaan kepada anak didiknya yang tinggi, maka seorang guru yang kreatif biasanya mengenal kemampuan setiap anak didiknya. Kemampuan anak didiknya adalah bisa berupa bakat atau talenta. Dengan kepekaan yang dia miliki, seorang guru yang kreatif akan berusaha untuk memanfaatkan dan mengembangkan talenta yang dimiliki oleh anak didiknya, misalnya dengan memberikan kesempatan anak didiknya untuk tampil di acara-acara sekolah.

6. Kooperatif

Guru yang kreatif menyadari akan kelemahannya juga sebagai manusia. Itulah kenapa seorang guru yang kreatif berusaha untuk bisa belajar dari orang lain. Dengan kata lain, guru yang kreatif harus bisa bekerjasam dengan sesama guru, anak didik, kepala sekolah, dan pihak-pihak yang berada di lingkungan sekolah. Hal ini juga berguna untuk menyatukan misi dan visi diri dengan misi dan visi sekolah dan mengurangi kesalahpahaman dan permasalahan yang mungkin terjadi.

7. Mengajar Dengan Cara Menyenangkan

Seorang guru yang kreatif tidak ingin anak didiknya merasa bosan dan tertekan pada saat dia memberikan sebuah materi pelajaran kepada anak didiknya. Maka dia akan selalu mencari cara agar anak didiknya merasa nyaman dengan cara mengajar yang dia berikan.

Sumber:

http://www.7topranking.com/2012/09/7-tips-menjadi-guru-kreatif.html?m=1 diakses tanggal 7 Desember 2016

Sabtu, 03 Desember 2016

Teknik-Teknik Supervisi

Tujuan dan Teknik supervisi pendidikan
Tujuan supervisi pendidikan
1. Membantu guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai kegiatan program satuan pembelajaran,
2. Membantu guru menyusun
Teknik-teknik supervisi pendidikan
1. Kunjungan kelas,
2. Pertemuan pribadi
3. Rapat dewan guru,
4. Kunjungan antar kelas,
5. Kunjungan sekolah,
6. Kunjungan antar sekolah
7. Penerbitan buletin, dan
8. Penataran atau pendidikan dan pelatihan.
Penjelasan Teknik-teknik supervisi pendidikan sebagai berikut :
Kunjungan Kelas
Supervisor memasuki ruang kelas pada pelaksaan KBM. Teknik ini dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
1. Direncanakan pengawas dan diberitahukan kepada guru yang bersangkutan
2. Direncanakan oleh pengawas, tetapi tidak diberitahukan kepada guru yang bersangkutan
3. Direncanakan oleh guru, kemudian mengundang pengawas.
Kunjungan kelas ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi dalam rangka peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran bukan menentukan kondite.
Pertemuan Pribadi
Pertemuan pribadi adalah dialog antara pengawas dan guru mengenai usaha-usaha meningkatkan kemampuan profesional guru. Pertemuan pribadi dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Pertemuan pribadi sebelum kunjungan kelas
Pertemuan ini membicarakan upaya perbaikan proses pembelajaran sehingga akan menjadi fokus obserfasi kelas.
Pertemuan pribadi sesudah kunjungan kelas.
Pertemuan ini membicarakan kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan sehingga menjadi umpan balik bagii guru untuk memperbaiki dan meninghkatkan proses pembelajaran.
Rapat Dewan Guru
Rapat dewan guru merupakan pertemuan antar semua guru dan kepala sekolah yang membicarakan berbagai hal yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan dan proses pembelajaran. Maksud rapat dewan guru:
1. Mengatur seluruh anggota staff agar memiliki kesamaan tujuan
2. Mendorong anggota agar mengetahui tangung jawab masing-masing
3. Bersama-sama menentukan cara yang dapat dilakukan perbaikan PBM
4. Meningkatkan arus komunikasi dan informasi.
Kunjungan Antar Kelas
Guru dikelas yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam satu lingkungan sekolah.
Kunjungan Sekolah
Pengawas mengunjungi sekolah secara teratur untuk memberikan pembinaan, baik dengan pemberitahuan maupun mendadak atau atas undangan guru atau kepala sekolah.
Kunjungan antar sekolah
Guru-guru atau staff mengunjungi sekolah-sekolah yang dinilai berhasil dan patut dijadikan contoh. Pengawas dapat memanfaatkan guru sekolah lain untuk memberikan pembinaan.
Penerbitan buletin profesional
Buletin profesional ialah selebaran berkala yang berisi topik-topik tetentu berkaitan dengan usaha peningkatan proses belajar-mengajar. Buletin ini tidak haru sditulis oleh para ahli, tetapi semua guru atau staff yang telah mempunyai pengalaman keberhasilan dalam proses pembelajaran.
Penataran atau pendidikan dan pelatihan
Penataran atau diklat dapat dilaksanakan dari sekolah sendiri atau mengikuti program yang dilaksanakan oleh pihak-pihak tertentu.

Sumber :
http://www.rumahbelajar.web.id/tujuan-dan-teknik-supervisi-pendidikan/ tanggal 4 Desember 2016. Pukul 00.57

Standart Kompetensi Supervisi Pendidikan

1. Kompetensi kepribadian
Kepribadian=> personality =>Topeng
Kepribadian permen agama yaitu berakhlak mulia, patut di contoh, bertanggung jawab, kreatif, keinginan untuk terus belajar dan memotivasi.

2. Kompetensi Supervisi Manajerial
Kata kunci manajerial yaitu ada pada pengelolaan dan administrasi
Fungsi manajerial yaitu POAC
Planning, Organizing, Actuating dan Controling

3. Kompetensi Supervisi Akademik
Adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.

4. Kompetensi Evaluasi Pendidikan
5. Kompetensi Penilaian dan Pengetahuan
6. Kompetensi Sosial

Manajemen Peserta didik berbasis sekolah

Manajemen berbasis sekolah meliputi manajemen pembelajaran berbasis sekolah, MPDBS, managemen tenaga pendidikan berbasis sekolah, managemen prasarana dan masyarakat, manajemen layanan khusus pendidikan berbasis sekolah.
MPDBS adalah kegiatan yang bermaksud untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah.

Tujuan dan Fungsi MPDBS :
Adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Lebih lanjut, proses belajar mengajar di sekolah dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.

Sumber :
Prof.Dr. Ali Imron, M.Pd., M.Si. manajemen peserta didik berbasis sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. 2016.

Jumat, 02 Desember 2016

Macam-macam Model-model Supervisi Pendidikan Islam

Dalam setiap literatur yang penulis temui semuanya menyebutkan bahwa model-model supervisi pendidikan itu terdiri dari empat model yang ke empatnya tersebut berbeda penggunaan dengan kata lain pada penggunaan model-model ini harus sesuai dengan masalah satuan pendidikan islam agar dalam kinerja yang dilakukan sebisa mungkin akan efisien dan efektif.
1. Model Konvensional (Tradisional)
Model supervisi konvensional adalah model yang diterapkan pada wilayah yang tradisi dan kultur masyarakat otoriter dan feodal. Pada wilayah ini cenderung melahirkan penguasa yang otokrat dan korektif.
Seorang supervisor dipahami sebagai orang yang memiliki power untuk mementukan nasib guru. Karenanya, dalam perspektif
behavior , seorang yang menerapkan model ini selalu menampakkan perilaku atau aksi supervisi dalam bentuk inspeksi untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan bahkan sering kali memata-matai objek, yaitu guru. Perilaku memata-matai ini disebut dengan istilah
snoopervision (memata-matai) atau juga sering disebut sebagai supervisi korektif.
Bila diamati lebih mendalam, praktik supervisi konvensional bersifat kontradiktif dengan makna dan tujuan supervisi , yaitu membimbing kepala sekolah dan guru guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan professional mereka dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pimpinan dan pendidik di sekolah.
Memata-matai dan mencari kesalahan dalam konteks membimbing guru cenderung melahirkan inflikasi negatif terhadap perilaku itu sendiri. Wajar jika kemudian para guru merasa tidak puas, takut, menjauh, tidak akrab, acuh tak acuh, benci, bahkan menantang ( agresif ) dan malas berjumpa dengan supervisor di sekolahnya. Perasaan-perasaan yang demikian ini akan memunculkan image yang kurang baik bagi supervisor itu sendiri. Padahal kepala sekolah, guru dan supervisor adalah partner dalam memajukan pendidikan.
Model supervisi konvensional pada praktiknya sering menyebabkan supervisor yang semestinya adalah orang hebat dalam memberikan bimbingan dan pelayanan kepada kepala sekolah atau guru guna peningkatan mutu pendidikan. Apa yang sesungguhnya diharapkan
dari seorang supervisor seperti yang seharusnya dinyatakan oleh Willes dan Ngalim purwanto , yaitu seorang supervisor berurusan dengan persiapan kepemimpinan yang efektif. Untuk melaksanakan dan mengembangkan perasaan sensitivitasnya terhadap perasaan-perasaan orang lain ( kepala sekolah, guru, staf sekolah dan para peserta didik ), untuk memperluas ketetapannya tentang anggapannya terhadap kelompok mengenai hal-hal yang penting agar selanjutnya lebih dapat melaksanakan hubungan-hubungan kerja sama yang kooperatif, untuk berusaha mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi bagi dirinya sendiri, dan untuk lebih sering berhubungan dengan mereka di dalam kelompok yang bekerja dengannya.
Untuk itu, model supervisi konvensional dalam supervisi pendidikan di era reformasi seperti sekarang ini seharusnya tidak dipakai lagi oleh supervisor. Model supervisi ini sebaiknya ditinggalkan dan tidak dipaksakan untuk diterapkan supervisor dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya. Karenanya, supervisor saat ini dapat kedepan semakin berat. Tugas yang semakin berat ini mustahil bisa dikerjakan tanpa kolaborasi, menjalin kerja sama dan berhubungan secara harmonis, dan ber-partner dengan pihak-pihak terkait seperti kepala sekolah, guru, staf sekolah, peserta didik, dan semua unsur pimpinan disekolah.
Keterkaitan konsep terkait dengan model-model supervis dalam pendidikan yang telah teruji dan mampu memperbaiki keterpurukan lembaga pendidikan dan proses pembelajaran yang tidak menguntungkan merupakan merupakan alternatif pilihan yang harus dipahami dan diaplikasikan supervisor pendidikan di dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya, dan sudah tentu harus mempertimbangkan kondisi nyata, objektivitas, dan aspirasi pihak-pihak yang akan disupervisi.
Permasalahannya sebenarnya tujuan dari supervisor tersebut baik namun cara mengomunikasikannya itu kurang bisa menyikapi apa yang dibutuhkan oleh kepala sekolah, guru dan staf lainnya, apabila kita bisa mengomunikasikannya secara baik-baik,dengan menggunakan bahasa penerimaan bukan penolakan, yang nantinya guru akan sadar dengan sendirinya untruk memperbaiki kesalahannya.
2. Model Artistik
Mengajar adalah suatu pengetahuan. Mengajar merupakan keterampilan tetapi juga suatu seni. Sejalan dengan tugas pengajar dan pendidik yang kegiatannya memerlukan pengetahuan, keterampilan dan seni.jadi, model supervisi artistik yang dimaksudkan disini adalah ketika supervisor melakukan kegiatan supervisi dituntut berpengetahuan, berketerampilan, dan tidak kaku dalam kegiatan supervisi juga mengandung nilai seni ( Art ).
Model supervise artistik mendasarkan diri pada bekerja untuk orang kain ( working for the others), bekerja dengan oranng lain ( working with the others), dan bekerja melalui orang lain ( working through the others) .
Supervisor dalam model supervisi artistik ini ingin menjadikan kepala sekolah, guru, dan staf sekolah menjadi dirinya sendiri, diajak bekerja sama, saling tukar dan konstribusi ide pemikiran, memutuskan dan menetapkan bagaimana seharusnya mengelola sekolah yang baik dan guru mengajar dengan baik untuk sama-sama berusaha meningkatkan mutu pendidikan.
Pada praktiknya, model supervisi artistik ini mempunyai beberapa ciri khusus yang harus diperhatikan oleh supervisor sebagai berikut.
a) Memerlukan perhatian khusus agar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara
b) Memerlukan tingkat perhatian yang cukup dan keahlian yang khusus untuk memahami apa yang dibutuhkan oleh orang
c) Mengutamankan sumbangan yang unik dari guru-guru untuk mengembangkan pendidikan bagi generasi muda.
d) Memerlukan laporan yang menunjukan bahwa dialog antara supervisor dengan yang disupervisi dilaksanakan atas dasar kepemimpinan dari kedua belah pihak.
e) Memerlukan kemampuan berbahasa tentang cara mengungkapkan apa yang dimilikinya terhadap orang lain.
f) Memerlukan kemampuan berbahasa tentang cara mengungkapkan apa yang dimilikinya terhadap orang lain.
g) Memerlukan kemampuan untuk menafsirkan makna dari peristiwa yang diungkapkan sehingga memperoleh pengalaman dan mengapresiasi dari apa yang dipelajarinya.
h) Menujukkan fakta bahwa sensivitas dan pengalaman merupakan instrument utama yang digunakan sehingga situasi pendidikan itu diterima dan bermakna bagi orang disupervisi.
3. Model Ilmiah
Supervisi ilmiah sebagai sebuah model dalam supervisi pendidikan dapat digunakan
oleh supervisor untuk menjaring informasi atau data dan menilai kinerja kepala sekolah dan guru dengan cara menyebarkan angket.
Model supervisi ilmiah menurut Sahertian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a) Dilakukan secara berencana dan kontinu.
b) Sistematis dan mengutamakan prosedur dan metode / teknik tertentu
c) Menggunakan instrument pengumpulan data yang tepat.
d) Menggunakan alat penilaian berupa angket yang mudah dijawab.
e) Angket disebar kepada siswa atau guru-guru sejawat.
Para siswa atau mahasiswa dapat menilai proses pengajaran guru atau dosen dengan menggunakan check list dan nantinya hasil penelitian tersebut diberikan kepada guru untuk dijadikan evaluasi terhadap kinerja guru untuk digunakan sebagai perbaikan pada semeseter selanjutnya.
4. Model Klinis
Morris Cogan mendefenisikan clinical supervision sebagai latar dan praktik yang didesain untuk mengembangkan performa guru dikelas. Senada dengan pendapat tersebut, Flander melihat pengawasan clinical sebagai sebuah teaching khusus yang mana setidaknya ada dua orang yang bersangkutan yang akan diperbaiki. Kegiatan ini juga untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja guru dan merangsang perubahan dalam mengajar. Oleh karena itu, mengajar merupakan suatu usaha membimbing kegiatan siswa yang baik, baik dari mental rohani maupun jasmani.
Supervisi klinis termasuk juga dari bagian supervisi pengajaran. Dikatakan sebagai supervisi klinis karena prosedur pelaksanaanya lebih ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang terjadi di dalam proses belajar-mengajar, dan kemudian secara langsung pula diusahakan bagaimana cara memperbaiki kelemahan atau kekurangan tersebut.
Selanjutnya, model supervisi klinis ini mempunyai beberapa ciri-ciri sebagai berikut.
a) Bantuan yang diberikan bukan bersifat instruksi atau memerintah.
b) Harapan dan dorongan timbul dari guru itu sendiri
c) Guru memiliki satuan tingkah laku mengajar yang terintegrasi.
d) Suasana dalam pemberian supervisi penuh kehangatan, kedekatan, dan keterbukaan.
e) Instrument yang digunakan untuk observasi disusun atas dasar kesepakatan antara guru dengan supervisor.
Sementara prinsip-prinsip model supervisi klinis, antara lain sebagai berikut :
1. Pelaksanaan supervisi
harus berdasarkan inisiatif dari guru lebih dahulu
2. Menciptakan hubungan manusiawi yang bersifat interaktif dan rasa kesejawatan.
3. Menciptakan suasana bebas untuk mengemukakan apa yang dialaminya.
4. Objek kajiannya adalah kebutuhan professional guru yang riil dan alami.
Jadi, model supervisi klinis dapat dikatakan bertujuan untuk mengadakan perubahan terhadap perilaku, cara, dan mutu mengajar guru yang sistematik. Model ini difokuskan pada peningkatan mengajar melaui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang interaktif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.
Model supervisi pendidikan islam ini lebih difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang insentif, yang cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.
Menurut tahapan operasional model supervisi klinis dalam supervisi pendidikan dilakukan melalui suatu siklus-siklus yang terdiri dari tiga siklus sebagai berikut.
Tahap pertemuan awal ( perencanaan )
Pada tahap ini, supervisor dan guru perlu membangun komunikasi,
menyatukan persepsi, menciptakan suasana yang harmonis, terbuka, dan akrab. Tahap ini snagat fundamental dan teknis. Selain itu, perlu melkukan diskusi mendalam tentang konsep model supervisi klinis, tujuanm dan bagaimana operasionalnya. Adapun kativitas dalam tahap ini adalah:
a) Menciptakan suasana terbuka.
b) Mengkaji dan mendiskusikan rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran.
c) Menentukan fokus observasi.
d) Menentukan alat bantu observasi.
e) Menentukan teknik pelaksanaan observasi.
Tahap pelaksanaan observasi
Pada tahap pelaksanaan observasi, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dikelas sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati pada tahap pertemuan awal. Kondisi yang kondusif perlu dijaga sehingga pada pelaksanaan proses pemebeljarana dikelas tidak tersa kaku dan tidak mengganggu proses pembeljaran, namun sebaliknya sangat fleksibel, luwes, terukur. Dan professional. Adapun aktivitas yang berlangsung dalam tahap ini adalah.
a) Supervisor dan guru memasuki ruang kelas tempat berlangsung kegiatan pembelajaran secara bersamaan dan mengatur posisi masing-masing tanpa harus mengganggu proses pembelajaran yang telah direncanakan.
b) Guru menjelaskan maksud kedatangan supervisor dikelas dengan bahasa yang sederhana.
c) Guru menjalankan pembelajaran seperti biasanya.
d) Supervisor mengobservasi dan mencatat penampilan guru berdasarkan format observasi yang sudah di format sebelumnya.
e) Setelah proses pembelajaran, guru atau ruang keluar dari kelas dan menuju ruang guru atau pembinaan guru untuk mendiskusikan hasil observasi.
Tahap akhir ( analisis dan Diskusi Balikan )
Pada tahap akhir siklus model supervisi klinis adalah analisis hasil pasca-observasi. Supervisor mengevaluasi semua kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru tahap demi tahap dengan tujuan untuk memperbaiki
performance guru. Adapun beberapa aktivitas yang ada dalam tahap ini adalah:
a) Supervisor sgaring dengan guru terima terkait dengan perasaan guru ketika mengajar untuk menciptakan suasana yang bersahabat sehingga guru tidak merasa diadili.
b) Supervisor memberikan penguatan terhadap kegiatan pembelajaran dikelas.
c) Supervisor dan guru membicarakan kelanjutan kontrak yang telah disepakati berasama.
d) Supervisor menjelaskan dan menunjukkan hasil observasi yang telah diinterpretasi, memberikan kesempatan kepada guru guru untuk
mempelajari dan menginterpretasi, selanjutnya mendiskusikan bersama.
e) Menanyakan kembali bagaiman perasaan guru setelah bersama.
f) Bersama-berasama supervisor dan guru membuat kesimpulan dari hasil observasi ini.

DAFTAR RUJUKAN

Abd. Kadim Masaong, Abd. Kadim.
Supervisi Pembelajaran dan Perkembangan Kapasitas Guru.
Bandung : Alfabeta, 2012.

Asf, Jasmani & Syaiful Mustofa,
Supervisi Pendidikan . Jogjakarta : Ar-ruzz Media, 2013.

Maryono, Dasar- Dasar & Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan . Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011.

Purwanto, M. Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan .
Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009.

Sahertian, Piet A. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Perkembangan SDM .
Jakarta : PT Rineka Cipta, 2010

Kamis, 24 November 2016

Tugas profesi ke 14 (Guru sebagai pemecah Masalah)

Berikut ini adalah contoh tindakan yang termasuk kategory bullying, pelaku baik individual maupun group secara sengaja
menyakiti atau mengancam korban dengan cara:
- menyisihkan seseorang dari pergaulan,
- menyebarkan gosip, mebuat julukan yang bersifat ejekan,
- mengerjai seseorang untuk mempermalukannya,
- mengintimidasi atau mengancam korban,
- melukai secara fisik,
- melakukan pemalakan/ pengompasan.

Argumentasi:
Contoh tindakan bullying diatas yg harus diselesaikan oleh guru atau pendidik sebagai pemecah masalah.

Bullying berasal dari kata Bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku), yang menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya (korban disebut bully boy atau bully girl) berupa stress (yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau psikis, atau keduanya; misalnya susah makan, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, cemas, dan lainnya). Apalagi Bully biasanya berlangsung dalam waktu yang lama (tahunan) sehingga sangat mungkin mempengaruhi korban secara psikis. Sebenarnya selain perasaan-perasaan di atas, seorang korban Bully juga merasa marah dan kesal dengan kejadian yang menimpa mereka. Ada juga perasaan marah, malu dan kecewa pada diri sendiri karena “membiarkan” kejadian tersebut mereka alami. Namun mereka tak kuasa “menyelesaikan” hal tersebut, termasuk tidak berani untuk melaporkan pelaku pada orang dewasa karena takut dicap penakut, tukang ngadu, atau bahkan disalahkan. Dengan penekanan bahwa bully dilakukan oleh anak usia sekolah, perlu dicatat bahwa salah satu karakteristik anak usia sekolah adalah adanya egosentrisme (segala sesuatu terpusat  dirinya) yang masih dominan. Sehingga ketika suatu kejadian menimpa dirinya, anak masih menganggap bahwa semua itu adalah karena dirinya.
Definisi Bullying menurut PeKA (Peduli Karakter Anak) adalah bullying adalah penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional dan juga seksual.

Sumber: http://harunnihaya.blogspot.co.id/2011/12/bullying-dan-solusinya.html?m=1 diakses tgl 25 november 2016 .pukul.12.23

Tugas ke 13 (Penilaian guru pai)


Jakarta - Guru SMKN 2 Makassar bernama Dasrul mendapat bogem mentah dari orang tua murid di dalam lingkungan sekolah. Pelaku bernama Ahmad Adnan diketahui merupakan orangtua Alif Syahdan, kelas 2 jurusan Gambar II.

"Kalau dari berita yang saya dengar, gurunya sempat menampar anaknya karena berbicara kasar. Di sini perlu ditekankan baik orang tua dan guru tidak boleh bicara kasar. Tapi inikan kayak lingkaran setan. Orang tua juga merasa kesal kenapa anaknya diberi kekerasan fisik oleh guru," kata Ratih Zulhaqqi saat dihubungi detikcom, Jumat (12/8/2016) malam sekitar pukul 20.20 WIB.

sumber :
http://news.detik.com/berita/3274708/psikolog-guru-dan-orang-tua-murid-yang-gunakan-kekerasan-sama-sama-salah .diakses tanggal 22 november 2016 .pukul 08.00

Argumentasi :
Seharusnya sebagai guru mampu untuk memberikan contoh yang baik. Seperti contoh diatas yang seharusnya tidak berbicara kasar di depan peserta didik.  Sebagai Guru harus mampu meminimalisir hal itu dengan cara diadakannya acara kumpulan guru untuk membahas bagaimana menjadi guru yang baik. Misalnya dengan diadakannya acara kumpulan teman sejawat ada hal-hal penting yg dibahas yaitu mendiskusikan bagaimana cara guru mengajar yang baik, cara guru menilai diri , instropeksi diri dengan cara mengajar dll. Sehingga dengan adanya acara tersebut guru dapat menilai diri agar menjadi guru yang profesional dan mampu memiliki 4 kompetensi yang harus dimiliki guru.

Minggu, 30 Oktober 2016

prof. tugas 8.9.10.

Kelembutan Guru PAI
Contoh :
Seorang guru di SMPN 1 Kauman Tulungagung yang menanyakan pada peserta didik yang belum bisa mengerjakan tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menanyakan kenapa tidak membawa jenis-jenis benda yang dapat mensucikan. Setelah itu guru menyuruh peserta didik yang belum membawa untuk mencari jenis-jenis benda yang dapat digunakan untuk bersuci di lingkungan sekolah. Ketika sudah mendapatkannya siswa disuruh masuk ke dalam kelas.
Argumentasi :
Guru seperti ini tidak menggunakan bahasa yang kasar karena pada dasarnya kelembutan didapaatkan dari guru yang tidak menggunakan kata-kata yang kasar. Kelembutan seorang guru disini yaitu guru yang tidak membedakan peserta didik satu dengan peserta didik yang lainnya. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang tidak punya belas kasihan niscaya tidak dikasihi” (HR.Bukhari).  Kelembutan menurut KBBI yaitu kehalusan atau budi pekerti. Menurut islam budi pekerti sama dengan akhlak yang baik.
Penguatan oleh Guru PAI
Contoh :
Peserta didik di SMKN 1 Boyolangu jurusan administrasi perkantoran yang sering tidak massuk sekolah. Guru BK mencari tahu kenapa sering tidak masuk sekolah, setelah guru mencari tahu penyebab kenapa sering tidak masuk dengan menanyakan pada peserta didik, memberikan pendekatan dan lain-lain. Akhirnya setelah peserta didik itu mendapat penguatan dari guru BK dia menjadi sering masuk sekolah.
Argumentasi :
Guru seperti itu sudah melakukan penguatan dengan hasilnya yaitu peserta didik menjadi aktif masuk lagi. Guru seperti ini sudah melakukan penguatan dengan memberikan ucapan-ucapan yang  dapat memotivasi peserta didik.
Materi Penguatan oleh Guru PAI :
PENGUATAN OLEH GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasayarat mutlak untuk mencapai tujuan pembagungan. Salah satu wahanan untuk meningkatkan kualitas SDM (sumber daya manusia) tersebut adalah pendidikan. Kualitas pendidikan juga harus ditingkatkan dari waktu ke waktu karena tuntunan arus globalisasi yang sangat dinamis. Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watak bangsa. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional mulai dari sarana dan prasarana, kurikulum, peserta didik, kurikulum, evaluasi, pendidik dan lainnya. Dari beberapa hal diatas pendidik memiliki andil besar dalam mendidik, membina dan mengarahkan peserta didik. Peranan pendidik dalam dunia pendidikan menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter peserta didik. Dalam pelaksanaannya seorang pendidik memberikan penguatan (reinforcement) kepada peserta didik.
Penguatan berasal dari kata kuat yang berarti kukuh, teguh, tahan, dan awet, mendapat awalan pe dan akhiran –an menjadi penguatan yang berarti perbuatan mengukuhkan, membangkitkan, meneguhkan, mempertahankan dan mengawetkan. Secara tradisional, Penguat dianggap sebagai sebuah stimulasi atau perangsang. Penguatan atau reinforcement adalah respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya perilaku tersebut. Penguatan (reinforcement) dapat diberikan secara verbal ataupun non verbal, yang diberikan guru terhadap tingkah laku siswa untuk memberikan umpan balik atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi dan memotivasi siswa yang lain untuk berbuat hal yang sama seperti siswa yang diberikan penguatan tadi.
Keterampilan memberikan penguatan juga diartikan dengan tingkah laku guru dalam merespon secara positif suatu tingkah laku tertentu siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali, dimaksudkan untuk membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar-mengajar.
Ada pula pendapat lain, ketrampilan memberikan penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Seorang guru perlu menguasai keterampilan memberikan penguatan karena “penguatan merupakan dorongan bagi siswa untuk meningkatkan penampilannya, serta dapat meningkatkan perhatian. Selain itu, keterampilan memberikan penguatan merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku diwaktu yang lain.
ü  Prinsip-Prinsip Reinforcement (Penguatan)
Kata prinsip menurut Kamus Ilmiah Populer diartikan sebagai “asas; pokok; penting; permulaan; fundamen; aturan pokok”. Adapun prinsip-prinsip reinforcement berarti suatu yang menjadi pokok dan penting yang harus diperhatikan dalam menggunakan keterampilan pemberian penguatan atau reinforcement dalam preoses pembelajaran sehingga tercapai tujuan pembelajaran.
Prinsip-prinsip reinforcement (penguatan) sebagai bentuk penghargaan terhadap peserta didik meliputi :
1.     Kehangatan
Adapun yang dimaksud prinsip kehangatan dapat diuraikan sebagai berikut:
Kehangatan sikap guru dapat ditunjukkan dengan suasana, mimik dan gerakan badan (gestural). Kehangatan sikap guru akan menjadikan penguatan yang diberikan menjadi lebih efektif. Jangan sampai siswa mendapat kesan bahwa guru tidak ikhlas dalam memberikan penguatan.
2.     Antusiasme
Adapun yang dimaksud prinsip antusiasme dapat diuraikan sebagai berikut :
Sikap antusias dalam memberi penguatan dapat menstimulasi siswa untuk meningkatkan motivasinya. Antusiame guru dalam memberikan penguatan dapat membawa kesan pada siswa akan kesungguhan atau ketulusan guru. Antusiasme dalam memberikan penguatan akan mendorong munculnya kebanggaan dan percaya diri pada siswa.
3.      Bermakna
Adapun yang dimaksud prinsip bermakna dapat diuraikan sebagai berikut :
Inti dari kebermaknaan adalah bahwa siswa mengerti dan yakin bahwa dirinya memang layak diberikan penguatan, karena hal itu memang sesuai dengan tingkah laku dan penampilannya. Oleh karena itu, kebermaknaan dalam pemberian penguatan hanya mungkin apabila diberikan dalam konteks yang relevan. Dalam hal ini, guru harus menggunakan penguatan sesuai tujuan dan tepat penggunaannya. Sebagai contoh misalnya “menghadapi siswa yang sering gagal, guru hendaknya menggunakan pujian untuk membuat kritik yang memberikan keseimbangan ketika kemajuan muncul”. Penguatan tersebut relevan dengan konteks, yakni sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
4.   Menghindari respons negatif
         Adapun yang dimaksud prinsip menghindari respons negatif dapat diuraikan sebagai berikut :
Meskipun disadari bahwa hukuman dan teguran dapat digunakan untuk mengendalikan dan membina tingkah laku siswa, tetapi respons negatif yang diberikan guru seperti komentar yang bernada menghina atau ejekan patut atau perlu dihindari, karena hal itu akan mematahkan semangat siswa dalam mengembangkan dirinya.
ü  Komponen-Komponen Reinforcement (Penguatan)
Penggunaan komponen ketrampilan dalam kelas harus bersifat selektif dan hati-hati disesuaikan dengan usia siswa, tingkat kemampuan, kebutuhan serta latar belakang, tujuan dan sifat tugas. Begitu pula dengan penggunaan komponen reinforcement. Adapun komponen keterampilan penguatan (reinforcement) adalah :
a.       Penguatan Verbal
Penguatan verbal dapat berupa kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru. Komentar guru berupa kata-kata pujian, dukungan dan pengakuan dapat digunakan untuk penguatan tingkah laku dan kinerja siswa. Adapun penguatan verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk yakni :
1.      Kata-kata seperti bagus ya, tepat, betul, bagus sekali dan sebagainya.
2.      Kalimat seperti pekerjaanmu bagus sekali, caramu memberikan  penjelasan baik sekali dan sebagainya.
b.      Penguatan Gestural
Terkait penguatan gestural, lebih lanjut diuraikan sebagai berikut :
Penguatan ini diberikan dalam bentuk mimik, gerakan wajah atau anggota badan yang dapat memberikan kesan kepada siswa. Misalnya, mengangkat alis, tersenyum, kerlingan mata, tepuk tangan, anggukan tanda setuju, menaikkan ibu jari tanda “jempolan”, dan lain-lain. Penguatan ini “sering kali digunakan bersamaan dengan penguatan verbal,” pekerjaanmu bagus sekali”, pada saat itu guru menganggukkan kepalanya”. Penguatan gestural termasuk isyarat non-verbal karena “memberikan gambaran tentang sesuatu dalam rangka memperjelas maksud atau penjelasan atau uraian yang diucapkan guru”. Namun hal yang harus diperhatikan adalah “tidak setiap ucapan harus diikuti dengan anggota tubuh, kalau hal itu memang tidak dilakukan dengan isyarat”.
c.  Penguatan dengan Cara Mendekati
Mengenai penguatan dengan cara mendekati dapat diuraikan sebagai berikut:
Penguatan ini dikerjakan dengan cara mendekati siswa untuk menyatakan perhatian guru terhadap pekerjaan, tingkah laku atau penampilan siswa. Misalnya guru duduk dalam kelompok diskusi, berdiri di samping siswa. Sering gerakan guru mendekati siswa diberikan untuk memperkuat penguatan yang bersifat verbal. Dengan penguatan ini, maka dapat menghangatkan suasana belajar anak, yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi. Kesan akrab juga dapat ditimbulkan dengan cara ini, akibatnya anak tidak dibebani tugas.
d.            Penguatan dengan Sentuhan
Guru dapat menyatakan penghargaan kepada siswa dengan menepuk pundak siswa, menjabat tangan siswa, atau mengangkat tangan siswa. Seringkali untuk anak-anak yang masih kecil, guru mengusap rambut kepala siswa. Teknik ini penggunaannya perlu mempertimbangkan latar belakang anak, umur, jenis kelamin, serta latar belakang kebudayaan setempat.
e.  Penguatan dengan Kegiatan yang Menyenangkan
Mengenai reinforcement (penguatan) ini, sebagaimana dikutip Marno dan Idris sebagai berikut :
Untuk menguatkan gairah belajar, guru dapat memilih kegiatan-kegiatan belajar yang disukai anak. Karena tiap-tiap anak memiliki kesukaan masing-masing, guru perlu menyediakan berbagai alternatif pilihan yang sesuai dengan kesukaran masing-masing anak. Dengan memberikan alternatif kegiatan belajar yang sesuai dengan kesukaan anak tersebut, maka hal itu bisa juga menjadi bentuk penguatan bagi anak. Dapat juga penguatan ini diberikan sebagai akibat dari prestasi baik yang ditunjukkan anak. Misalnya anak berprestasi dalam hasil belajarnya ditunjuk sebagai pimpinan kelompok.
f.     Penguatan berupa Simbol atau Benda
     Bentuk penguatan ini antara lain : komentar tertulis pada buku pekerjaan, pemberian prangko, mata uang koleksi, bintang, permen, dan lain sebagainya. Hal itu dimaksudkan sebagai hadiah. Jenis simbol atau benda yang diberikan diselaraskan dengan usia perkembangan anak. Hendaknya tujuan belajar anak tidak mengarah pada benda tersebut. Oleh karena itu perlu dibatasi frekuensi penggunaannya.
Sumber :
Mulyasa, E. 2002.  Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2008.  Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jurnal Penelitian Diunduh 19/09/2016 Pukul 18.42

Tindakan Tegas Yang Mendidik oleh Guru PAI
Contoh :
Guru yang memberikan kontrak belajar sebelum materi diberikan di dalam kelas. Seperti yg dilakukan di kelas administrasi perkantoran di smkn 1 boyolangu mapel bahasa inggris kelas 3 tahun 2013. Tindakan tegas dari seorang guru ini ialah tidak boleh terlambat masuk kelas dan saat ujian berlangsung siswa tidak boleh menengok ke kanan kiri, jika ada yg melakukan hal tersebut maka tidak boleh melanjutkan ujiannya.

Argumentasi : 
Dari contoh diatas maka guru telah memberikan tindakan tegas yang mendidik. Terbukti dari kontrak belajar yang dipatuhi oleh siswa smk di kelas administrasi perkantoran. Alhamdulillah.
Tindakan tegas yang mendidik  (TTM) adalah upaya pendidik untuk mengubah tingkah laku siswa yang kurang dikehendaki melalui penyadaran siswa atas kekeliruan dengan tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat dan hubungan baik antara guru dan siswa. Dengan tindakan tegas yang mendidik itu guru konsisten terhadap harkat dan martabat siswa, tujuan pendidikan, pengakuan dan penerimaan, serta kasih sayang dan kelembutan tehadap siswa. 
Sumber: http://konselordrsuko.blogspot.co.id/2013/09/contoh-tindakan-tegas-mendidik-cuplikan.html?m=1 diakses tanggal 25 November 2016 .jam 12.41 .

Selasa, 25 Oktober 2016

Profesi Keguruan kelompok 5 ( Materi Pengakuan dan Penerimaan )

Pengakuan dan penerimaan guru PAI
Contoh penyimpangan dari pengakuan dan penerimaan guru PAI

Guru yang memukul salah satu siswa  di kelas karena sering terlambat masuk kelas, tanpa guru mengetahui latar belakang siswa itu terlambat. Setelah guru itu mendatangi di rumah siswa tersebut melihat latar belakang siswa tidak tertib masuk kelas ternyata dikarenakan baju seragam yang dipakainya harus bergantian dengan kakaknya. 

Argumen :
Menurut saya kurangnya pengakuan pendidik terhadap peserta didiknya dalam memberikan bimbingan atau pendidikan yaitu dengan memberikan hukuman kepada peserta didik yang terlambat datang ke sekolah. Tindakan pendidik kurang tepat karena dengan melakukan hukuman dengan tindakan kekerasan baik fisik atau psikis tidak efektif untuk memotivasi siswa dalam merubah tingkah laku. Seharusnya pendidik memberikan responsive dan membantu peserta didiknya. Dengan bantuan yang besifat sosial dan psikologis hal ini diberikan agar tidak terjadinya penurunan mental belajar peserta didik. 

Tugas Profesi 6 kasih Sayang

KASIH SAYANG GURU 
Contoh kasus yang menyimpang dari kasih sayang guru PAI : 
SULSEL - Kekerasan di dunia pendidikan kembali terjadi. Empat siswi SMP Negeri I Binamu Jeneponto, Sulawesi Selatan diduga dianiaya guru mereka. Setelah musyawarah tak menemukan kata mufakat, pihak orangtua siswi akhirnya melaporkan pihak sekolah dan oknum guru ke polisi.
Empat siswi SMP Negeri I Binamu mendatangi Mapolres Jeneponto untuk melaporkan kasus penganiayaan yang dilakukan seorang oknum guru. Keempat siswi ini diduga dianiaya gurunya, Bulu Tantu di dalam kelas saat mengikuti mata pelajaran bahasa Inggris. Dalam laporannya, keempat siswi yang duduk di kelas tiga SMP ini masing-masing Riska Ade Talia, Israwati Syarif , dan Mawar Amelia Reski serta Puji Lestari Arsyad melaporkan guru bidang studi bahasa Inggris tersebut setelah dipukul menggunakan tangan dan gagang sapu di bagian leher mereka.

Sumber : http://m.okezone.com/read/2016/09/11/340/1486776/pukul-murid-pakai-sapu-guru-smp-i-binamu-dipolisikan .diakses tanggal 8 Oktober 2016 .Jam 03.00

Argumentasi :
      Dari kasus diatas jika di kaitkan dengan materi kasih sayang seharusnya guru tidak melakukan kekerasan dengan memukul tangan siswa dan memukul leher dengan gagang sapu. Karena dalam materi kasih sayang guru menggunakan rasa kasih dan sayang. Kasih yang artinya saling mengasihi dan sayang artinya perasaan kepada orang lain dengan memberikan sesuatu hal yang baik tanpa berpikir.
Dengan menggunakan kasih sayang seharusnya guru tidak memukul siswa.
     Pendidik dan peserta didik mempunyai hubungan satu sama lain, yaitu sebagai berikut:
1. Pelindung
Orang dewasa selalu menjaga dan memperhatikan kepada peserta didik. Dengan demikian peserta didik selalu diberi perlindungan baik jasmaniah maupun rohaniah. Selain itu juga diberi
perlindungan dengan jalan memberi pelajaran kepada peserta didik untuk dapat mengendalikan diri atas perbuatan dan ucapan. Pendidik selalu menjaga anak didiknya agar tidak merugikan dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Menjadi teladan
Orang tua atau pendidik secara sengaja atau tidak akan menjadi teladan bagi Si Anak yang ingin berbuat serupa dengan orang dewasa. Pendidik selalu berbuat dihadapan anak dan selalu berbuat bersama-sama dengan anak. Maka perlu bagi pendidik untuk memperhatikan segala gerak-geriknya dalam berbuat dan percakapannya dengan anak.
3. Pusat mengarahkan pikiran dan perbuatan
Pendidik acap kali mengikut sertakan peserta didik dengan apa-apa yang dipikirkan, baik yang menggembirakan ataupun dengan apa yang sedang dipertimbangkan. Jadi, menjelaskan berbagai hal kepada peserta didik mengenai apa yang dipikirkan. Anak diajak memahami serta menerima pendirian dari pendidiknya. Peserta didik diturut sertakan ke dalam kehidupan pendidik dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanggung jawab dan merangsang makin bertanggung jawab, juga mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kepentingannya sendiri. Di dalam hal-hal tertentu hendaknya anak dapat diberikan tanggungjawab penuh.
4. Pencipta perasaan bersatu
Peserta didik seolah-olah telah terbiasa di dalam suasana perasaan bersatu dengan pendidik. Dari suasana ini anak mendapatkan pengalaman dasar untuk hidup bermasyarakat, antara lain:
a. Saling percaya mempercayai
b. Rasa setia
c. Saling meminta dan memberi
Untuk memiliki perasaan-perasaan tersebut, anak dipersiapkan hidupnya di dalam suatu lingkungan keluarga yang teratur, dapat memberikan pimpinan dalam hidupnya. Selalu menunjukan kasih sayang, kesetiaan, percaya agar dapat menjadi contoh dari pada peserta didiknya. Sebagai pendidik harus pandai menciptakan suasana, sebagai alat pemersatu di dalam keluarga.
Sumber : 
Abd. Aziz, filsafat pendidikan Islam, Yogyakarta, sukses offet: 2009, hal : 199-201.

Tugas Profesi 7 kelembutan guru

Kelembutan guru 
Contoh kasus yang menyimpang dari kelembutan guru : 

Bandung - Tak pernah terlintas di pikiran Dvijatma Puspita Rahmani bahwa olimpade Biologi harus membuat dirinya mendapat nilai nol. Puspita mendapat nilai nol di mata pelajaran matematika.

Kisahnya berawal ketika dirinya jatuh sakit selama dua minggu. Orang tua Puspita, Danny Daud Setiana kemudian memberikan surat keterangan sakit kepada pihak sekolah.

Saat Puspita kembali masuk, ia kemudian harus mewakili sekolah mengikuti olimpiade biologi. Menjelang olimpiade, Puspita diwajibkan mengikuti pelatihan mata pelajaran biologi di sekolah.

Walau tidak masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran, namun Puspita tetap pergi ke sekolah. Ia dilatih oleh guru biologi di salah satu ruangan di sekolah. 

Ketika Puspita sedang rehat sejenak, ia bertemu dengan guru bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia itu kemudian menanyakan kenapa Puspita tidak masuk pelajarannya.

Puspita pun memberikan penjelasan kepada sang guru bahwa dirinya sedang mengikuti pelatihan olimpiade. Namun sang guru malah memarahinya.

"Memangnya pelajaran bahasa Indonesia tidak penting? Memang hanya pelajaran biologi saja yang penting?" kata guru bahasa Indonesia seperti dituturkan oleh orang tua Puspita, Daud ketika dihubungi detikcom, Senin (5/9/2016).

Puspita menurut Daud ketika itu langsung merasa kaget dengan perkataan guru bahasa Indonesia. Selama pelatihan olimpiade serta saat olimpiade berlangsung, Daud menjelaskan Puspita diberikan keistimewaan oleh sekolah untuk tidak mengikuti mata pelajaran.

Ia diijinkan untuk mengikuti ulangan susulan dan juga pengumpulan tugas susulan. Ketika olimpiade usai, Puspita kemudian menghadap kepada guru matematika.

Puspita meminta untuk mengikuti ujian susulan serta ulangan sususlan. Namun apa kata guru matematika kepada Puspita?

"Malah tiba-tiba guru matematika ini pas diminta ulangan susulan gak pernah dikasih. Malah dia bilang awas ya kamu gak bisa melawan guru. Lalu dia kasih anak saya nilai nol di rapot. Kan berlebihan," ucap Daud

Sumber :
http://m.detik.com/news/berita/3291031/karena-olimpiade-biologi-siswi-sma-di-bandung-ini-dapat-nilai-nol-dan-tak-naik-kelas .diakses tanggal 8 oktober 2016 . Jam 03.15 .

Argumentasi :
Arti Kata Kelembutan Kamus Bahasa Indonesia (KBBI)
Maksud arti kata Kelembutan definisi dan makna dari kata Kelembutan dalam KBBI Kamus Bahasa Indonesia.
Arti Kata Kelembutan
ke.lem.but.an
Nomina (kata benda) kehalusan (budi pekerti dan sebagainya)

Scope Nilai Budi Pekerti
Menurut pendapat Cahyoto (2002: 18-22), ruang lingkup ataau
scope pembahasan nilai budi pekerti yang bersumberkan pada etika atau filsafat moral menekankan unsur utama kepribadian, yaitu kesadaran dan berperankan hati nurani dan kebajikan bagi kehidupan yang baik berdasarkan sistem dan hukum nilai-nilai moral masyarakat. Hati nurani (ada yang menyebutnya hati, suara hati, dan suara batin) adalah kesadaran untuk mengendalikan dan mengarahkan perilaku seseorang dalam hal-hal yang baik dan menghindari tindakan yang buruk. Kebajikan dan kebaikan merupakan watak unggulan yang berguna dan menyenangkan bagi diri sendiri dan orang lain sesuai dengan pesan moral (Solomon, 1984: 100). Dengan demikian, terdapat hubungan antara budi pekerti dengan nilai-nilai moral dan norma hidup yang unsur-unsurnya merupakan ruang lingkup pembahasan budi pekerti. Unsur-unsur budi pekerti antara lain sebagai berikut:
Hati nurani kesopanan keberanian
Kebajikan kerapian bersahabat
Kejujuran keikhlasan kesetiaan
Dapat dipercaya kebijakan kehormatan
Disiplin pengendalian diri keadilan

Sumber :
Nurul zuhriyah, 2008, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam perspektif Perubahan, Jakarta: Bumi Aksara.

Kamis, 29 September 2016

Kasih sayang dan kelembutan

Kasih sayang dan kelembutan

          Kasih sayang dan kelembutan merupakan warna dan kualitas hubungan yang berawal dari pendidik kepada peserta didik, dalam bentuk komunikasi dan sentuhan-sentuhan lainnya. Hubungan ini, yang dasarnya adalah penerimaan dan pengakuan, dioperasionalkan dalam nuansa-nuansa sosio-emosional yang sejuk, hangat, dekat, akrab dan terbuka, serta permsif dan fasilitatif dan fasilitator –konstruktif yang bersifat pengembangan terhadap peserta didik.
Warna love (cita),  caring (perhatian, kehati-hatian, pemeliharaan) dengan focus yang terarah pada kkepentingan dan kebahagiaan peserta didik dengan prinsip-prinsip sesuai dengan HMM mendominasi penampilan kasih sayang dan kelembutan pendidik. Suasana seperti ini memungkinkan kedua belah pihak membuka diri dan saling memasuki serta mendalami secara lebih intensif.
Sumber :


Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed, Dasar Teori dan Praksis Pendidikan ,  PT. Grasindo, Jakarta, 2009, Hal : 52

Materi Pengakuan dan penerimaan Guru PAI . Matkul Profesi Keguruan

A.    Konsep Pengakuan dan Penerimaan dalam pendidikan, Khususnya guru Pendidikan Agama Islam
Pengakuan dan penerimaan adalah kesadaran dan pemahaman pendidik tentang segenap kandungan HMM yang sepenuhnya melekat pada diri peserta didik.  Atas dasar kesadaran dan pemahaman itu pendidik menghadapi dan memberikan perlakuan terhadap peserta didik sesuai dengan HMM (Harkat dan Martabat Manusia) demi teraktualisasikannya hakikat manusia melalui pengembangan dimensi kemanusiaan dan pancadayanya secara optimal. Pengakuan dan penerimaan ini merupakan dasar dari sikap dan perlakuan pendidik yang memuliakan kemanusiaan peserta didik melalui pendidikan.
Kesadaran dan pemahaman pendidik yang bermuara pada penyikapan dan perlakuan terhadap peserta didik itu harus sedemikian rupa terwujudkan sampai peserta didik benar-benar merasakan bahwa pengakuan dan penerimaan itu benar-benar diaktualisasikan oleh pendidik. Pengakuan dan penerimaan oleh pendidik yang dirasakan oleh peserta didik pada gilirannya akan menumbuhkan hal-hal yang sejalan pada diri peserta didik terhadap pendidik. Degan cara demikian itu akan terjadilah saling pengakuan atau penerimaan di antar keduanya. Suasana pengakuan atau penerimaan pendidik atau pengakuan pesera didik di satu sisi dan penerimaan atau pengakuan peserta didik terhadap pendidik memang ada perbedaan. Pengakuan atau penerimaan pendidik terhadap peserta didik didasarkan atas kondisi HMM yang melekat pada diri peserta didik, sedangkan pengakuan atau penerimaan peserta didik didasarkan atas peranan dan kualitas yang nyaman dari pribadi pendidik yang dirasakan oleh peserta didik, melalui penampilan pendidik itu sendiri. Suasana saling mengakuai dan menerima antara peserta didik dan pendidik seperti itu menjadi dasar bagi berlangsungnya komunikasi yang otentik antar keduanya.   


Sumber  : 
Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed, Dasar Teori dan Praksis Pendidikan ,  PT. Grasindo, Jakarta, 2009, Hal : 51-52