KASIH SAYANG GURU
Contoh kasus yang menyimpang dari kasih sayang guru PAI :
SULSEL - Kekerasan di dunia pendidikan kembali terjadi. Empat siswi SMP Negeri I Binamu Jeneponto, Sulawesi Selatan diduga dianiaya guru mereka. Setelah musyawarah tak menemukan kata mufakat, pihak orangtua siswi akhirnya melaporkan pihak sekolah dan oknum guru ke polisi.
Empat siswi SMP Negeri I Binamu mendatangi Mapolres Jeneponto untuk melaporkan kasus penganiayaan yang dilakukan seorang oknum guru. Keempat siswi ini diduga dianiaya gurunya, Bulu Tantu di dalam kelas saat mengikuti mata pelajaran bahasa Inggris. Dalam laporannya, keempat siswi yang duduk di kelas tiga SMP ini masing-masing Riska Ade Talia, Israwati Syarif , dan Mawar Amelia Reski serta Puji Lestari Arsyad melaporkan guru bidang studi bahasa Inggris tersebut setelah dipukul menggunakan tangan dan gagang sapu di bagian leher mereka.
Sumber : http://m.okezone.com/read/2016/09/11/340/1486776/pukul-murid-pakai-sapu-guru-smp-i-binamu-dipolisikan .diakses tanggal 8 Oktober 2016 .Jam 03.00
Argumentasi :
Dari kasus diatas jika di kaitkan dengan materi kasih sayang seharusnya guru tidak melakukan kekerasan dengan memukul tangan siswa dan memukul leher dengan gagang sapu. Karena dalam materi kasih sayang guru menggunakan rasa kasih dan sayang. Kasih yang artinya saling mengasihi dan sayang artinya perasaan kepada orang lain dengan memberikan sesuatu hal yang baik tanpa berpikir.
Dengan menggunakan kasih sayang seharusnya guru tidak memukul siswa.
Pendidik dan peserta didik mempunyai hubungan satu sama lain, yaitu sebagai berikut:
1. Pelindung
Orang dewasa selalu menjaga dan memperhatikan kepada peserta didik. Dengan demikian peserta didik selalu diberi perlindungan baik jasmaniah maupun rohaniah. Selain itu juga diberi
perlindungan dengan jalan memberi pelajaran kepada peserta didik untuk dapat mengendalikan diri atas perbuatan dan ucapan. Pendidik selalu menjaga anak didiknya agar tidak merugikan dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Menjadi teladan
Orang tua atau pendidik secara sengaja atau tidak akan menjadi teladan bagi Si Anak yang ingin berbuat serupa dengan orang dewasa. Pendidik selalu berbuat dihadapan anak dan selalu berbuat bersama-sama dengan anak. Maka perlu bagi pendidik untuk memperhatikan segala gerak-geriknya dalam berbuat dan percakapannya dengan anak.
3. Pusat mengarahkan pikiran dan perbuatan
Pendidik acap kali mengikut sertakan peserta didik dengan apa-apa yang dipikirkan, baik yang menggembirakan ataupun dengan apa yang sedang dipertimbangkan. Jadi, menjelaskan berbagai hal kepada peserta didik mengenai apa yang dipikirkan. Anak diajak memahami serta menerima pendirian dari pendidiknya. Peserta didik diturut sertakan ke dalam kehidupan pendidik dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanggung jawab dan merangsang makin bertanggung jawab, juga mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kepentingannya sendiri. Di dalam hal-hal tertentu hendaknya anak dapat diberikan tanggungjawab penuh.
4. Pencipta perasaan bersatu
Peserta didik seolah-olah telah terbiasa di dalam suasana perasaan bersatu dengan pendidik. Dari suasana ini anak mendapatkan pengalaman dasar untuk hidup bermasyarakat, antara lain:
a. Saling percaya mempercayai
b. Rasa setia
c. Saling meminta dan memberi
Untuk memiliki perasaan-perasaan tersebut, anak dipersiapkan hidupnya di dalam suatu lingkungan keluarga yang teratur, dapat memberikan pimpinan dalam hidupnya. Selalu menunjukan kasih sayang, kesetiaan, percaya agar dapat menjadi contoh dari pada peserta didiknya. Sebagai pendidik harus pandai menciptakan suasana, sebagai alat pemersatu di dalam keluarga.
Sumber :
Abd. Aziz, filsafat pendidikan Islam, Yogyakarta, sukses offet: 2009, hal : 199-201.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar