Minggu, 30 Oktober 2016

prof. tugas 8.9.10.

Kelembutan Guru PAI
Contoh :
Seorang guru di SMPN 1 Kauman Tulungagung yang menanyakan pada peserta didik yang belum bisa mengerjakan tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menanyakan kenapa tidak membawa jenis-jenis benda yang dapat mensucikan. Setelah itu guru menyuruh peserta didik yang belum membawa untuk mencari jenis-jenis benda yang dapat digunakan untuk bersuci di lingkungan sekolah. Ketika sudah mendapatkannya siswa disuruh masuk ke dalam kelas.
Argumentasi :
Guru seperti ini tidak menggunakan bahasa yang kasar karena pada dasarnya kelembutan didapaatkan dari guru yang tidak menggunakan kata-kata yang kasar. Kelembutan seorang guru disini yaitu guru yang tidak membedakan peserta didik satu dengan peserta didik yang lainnya. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang tidak punya belas kasihan niscaya tidak dikasihi” (HR.Bukhari).  Kelembutan menurut KBBI yaitu kehalusan atau budi pekerti. Menurut islam budi pekerti sama dengan akhlak yang baik.
Penguatan oleh Guru PAI
Contoh :
Peserta didik di SMKN 1 Boyolangu jurusan administrasi perkantoran yang sering tidak massuk sekolah. Guru BK mencari tahu kenapa sering tidak masuk sekolah, setelah guru mencari tahu penyebab kenapa sering tidak masuk dengan menanyakan pada peserta didik, memberikan pendekatan dan lain-lain. Akhirnya setelah peserta didik itu mendapat penguatan dari guru BK dia menjadi sering masuk sekolah.
Argumentasi :
Guru seperti itu sudah melakukan penguatan dengan hasilnya yaitu peserta didik menjadi aktif masuk lagi. Guru seperti ini sudah melakukan penguatan dengan memberikan ucapan-ucapan yang  dapat memotivasi peserta didik.
Materi Penguatan oleh Guru PAI :
PENGUATAN OLEH GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasayarat mutlak untuk mencapai tujuan pembagungan. Salah satu wahanan untuk meningkatkan kualitas SDM (sumber daya manusia) tersebut adalah pendidikan. Kualitas pendidikan juga harus ditingkatkan dari waktu ke waktu karena tuntunan arus globalisasi yang sangat dinamis. Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watak bangsa. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional mulai dari sarana dan prasarana, kurikulum, peserta didik, kurikulum, evaluasi, pendidik dan lainnya. Dari beberapa hal diatas pendidik memiliki andil besar dalam mendidik, membina dan mengarahkan peserta didik. Peranan pendidik dalam dunia pendidikan menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter peserta didik. Dalam pelaksanaannya seorang pendidik memberikan penguatan (reinforcement) kepada peserta didik.
Penguatan berasal dari kata kuat yang berarti kukuh, teguh, tahan, dan awet, mendapat awalan pe dan akhiran –an menjadi penguatan yang berarti perbuatan mengukuhkan, membangkitkan, meneguhkan, mempertahankan dan mengawetkan. Secara tradisional, Penguat dianggap sebagai sebuah stimulasi atau perangsang. Penguatan atau reinforcement adalah respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya perilaku tersebut. Penguatan (reinforcement) dapat diberikan secara verbal ataupun non verbal, yang diberikan guru terhadap tingkah laku siswa untuk memberikan umpan balik atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi dan memotivasi siswa yang lain untuk berbuat hal yang sama seperti siswa yang diberikan penguatan tadi.
Keterampilan memberikan penguatan juga diartikan dengan tingkah laku guru dalam merespon secara positif suatu tingkah laku tertentu siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali, dimaksudkan untuk membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar-mengajar.
Ada pula pendapat lain, ketrampilan memberikan penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Seorang guru perlu menguasai keterampilan memberikan penguatan karena “penguatan merupakan dorongan bagi siswa untuk meningkatkan penampilannya, serta dapat meningkatkan perhatian. Selain itu, keterampilan memberikan penguatan merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku diwaktu yang lain.
ü  Prinsip-Prinsip Reinforcement (Penguatan)
Kata prinsip menurut Kamus Ilmiah Populer diartikan sebagai “asas; pokok; penting; permulaan; fundamen; aturan pokok”. Adapun prinsip-prinsip reinforcement berarti suatu yang menjadi pokok dan penting yang harus diperhatikan dalam menggunakan keterampilan pemberian penguatan atau reinforcement dalam preoses pembelajaran sehingga tercapai tujuan pembelajaran.
Prinsip-prinsip reinforcement (penguatan) sebagai bentuk penghargaan terhadap peserta didik meliputi :
1.     Kehangatan
Adapun yang dimaksud prinsip kehangatan dapat diuraikan sebagai berikut:
Kehangatan sikap guru dapat ditunjukkan dengan suasana, mimik dan gerakan badan (gestural). Kehangatan sikap guru akan menjadikan penguatan yang diberikan menjadi lebih efektif. Jangan sampai siswa mendapat kesan bahwa guru tidak ikhlas dalam memberikan penguatan.
2.     Antusiasme
Adapun yang dimaksud prinsip antusiasme dapat diuraikan sebagai berikut :
Sikap antusias dalam memberi penguatan dapat menstimulasi siswa untuk meningkatkan motivasinya. Antusiame guru dalam memberikan penguatan dapat membawa kesan pada siswa akan kesungguhan atau ketulusan guru. Antusiasme dalam memberikan penguatan akan mendorong munculnya kebanggaan dan percaya diri pada siswa.
3.      Bermakna
Adapun yang dimaksud prinsip bermakna dapat diuraikan sebagai berikut :
Inti dari kebermaknaan adalah bahwa siswa mengerti dan yakin bahwa dirinya memang layak diberikan penguatan, karena hal itu memang sesuai dengan tingkah laku dan penampilannya. Oleh karena itu, kebermaknaan dalam pemberian penguatan hanya mungkin apabila diberikan dalam konteks yang relevan. Dalam hal ini, guru harus menggunakan penguatan sesuai tujuan dan tepat penggunaannya. Sebagai contoh misalnya “menghadapi siswa yang sering gagal, guru hendaknya menggunakan pujian untuk membuat kritik yang memberikan keseimbangan ketika kemajuan muncul”. Penguatan tersebut relevan dengan konteks, yakni sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
4.   Menghindari respons negatif
         Adapun yang dimaksud prinsip menghindari respons negatif dapat diuraikan sebagai berikut :
Meskipun disadari bahwa hukuman dan teguran dapat digunakan untuk mengendalikan dan membina tingkah laku siswa, tetapi respons negatif yang diberikan guru seperti komentar yang bernada menghina atau ejekan patut atau perlu dihindari, karena hal itu akan mematahkan semangat siswa dalam mengembangkan dirinya.
ü  Komponen-Komponen Reinforcement (Penguatan)
Penggunaan komponen ketrampilan dalam kelas harus bersifat selektif dan hati-hati disesuaikan dengan usia siswa, tingkat kemampuan, kebutuhan serta latar belakang, tujuan dan sifat tugas. Begitu pula dengan penggunaan komponen reinforcement. Adapun komponen keterampilan penguatan (reinforcement) adalah :
a.       Penguatan Verbal
Penguatan verbal dapat berupa kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru. Komentar guru berupa kata-kata pujian, dukungan dan pengakuan dapat digunakan untuk penguatan tingkah laku dan kinerja siswa. Adapun penguatan verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk yakni :
1.      Kata-kata seperti bagus ya, tepat, betul, bagus sekali dan sebagainya.
2.      Kalimat seperti pekerjaanmu bagus sekali, caramu memberikan  penjelasan baik sekali dan sebagainya.
b.      Penguatan Gestural
Terkait penguatan gestural, lebih lanjut diuraikan sebagai berikut :
Penguatan ini diberikan dalam bentuk mimik, gerakan wajah atau anggota badan yang dapat memberikan kesan kepada siswa. Misalnya, mengangkat alis, tersenyum, kerlingan mata, tepuk tangan, anggukan tanda setuju, menaikkan ibu jari tanda “jempolan”, dan lain-lain. Penguatan ini “sering kali digunakan bersamaan dengan penguatan verbal,” pekerjaanmu bagus sekali”, pada saat itu guru menganggukkan kepalanya”. Penguatan gestural termasuk isyarat non-verbal karena “memberikan gambaran tentang sesuatu dalam rangka memperjelas maksud atau penjelasan atau uraian yang diucapkan guru”. Namun hal yang harus diperhatikan adalah “tidak setiap ucapan harus diikuti dengan anggota tubuh, kalau hal itu memang tidak dilakukan dengan isyarat”.
c.  Penguatan dengan Cara Mendekati
Mengenai penguatan dengan cara mendekati dapat diuraikan sebagai berikut:
Penguatan ini dikerjakan dengan cara mendekati siswa untuk menyatakan perhatian guru terhadap pekerjaan, tingkah laku atau penampilan siswa. Misalnya guru duduk dalam kelompok diskusi, berdiri di samping siswa. Sering gerakan guru mendekati siswa diberikan untuk memperkuat penguatan yang bersifat verbal. Dengan penguatan ini, maka dapat menghangatkan suasana belajar anak, yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi. Kesan akrab juga dapat ditimbulkan dengan cara ini, akibatnya anak tidak dibebani tugas.
d.            Penguatan dengan Sentuhan
Guru dapat menyatakan penghargaan kepada siswa dengan menepuk pundak siswa, menjabat tangan siswa, atau mengangkat tangan siswa. Seringkali untuk anak-anak yang masih kecil, guru mengusap rambut kepala siswa. Teknik ini penggunaannya perlu mempertimbangkan latar belakang anak, umur, jenis kelamin, serta latar belakang kebudayaan setempat.
e.  Penguatan dengan Kegiatan yang Menyenangkan
Mengenai reinforcement (penguatan) ini, sebagaimana dikutip Marno dan Idris sebagai berikut :
Untuk menguatkan gairah belajar, guru dapat memilih kegiatan-kegiatan belajar yang disukai anak. Karena tiap-tiap anak memiliki kesukaan masing-masing, guru perlu menyediakan berbagai alternatif pilihan yang sesuai dengan kesukaran masing-masing anak. Dengan memberikan alternatif kegiatan belajar yang sesuai dengan kesukaan anak tersebut, maka hal itu bisa juga menjadi bentuk penguatan bagi anak. Dapat juga penguatan ini diberikan sebagai akibat dari prestasi baik yang ditunjukkan anak. Misalnya anak berprestasi dalam hasil belajarnya ditunjuk sebagai pimpinan kelompok.
f.     Penguatan berupa Simbol atau Benda
     Bentuk penguatan ini antara lain : komentar tertulis pada buku pekerjaan, pemberian prangko, mata uang koleksi, bintang, permen, dan lain sebagainya. Hal itu dimaksudkan sebagai hadiah. Jenis simbol atau benda yang diberikan diselaraskan dengan usia perkembangan anak. Hendaknya tujuan belajar anak tidak mengarah pada benda tersebut. Oleh karena itu perlu dibatasi frekuensi penggunaannya.
Sumber :
Mulyasa, E. 2002.  Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2008.  Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jurnal Penelitian Diunduh 19/09/2016 Pukul 18.42

Tindakan Tegas Yang Mendidik oleh Guru PAI
Contoh :
Guru yang memberikan kontrak belajar sebelum materi diberikan di dalam kelas. Seperti yg dilakukan di kelas administrasi perkantoran di smkn 1 boyolangu mapel bahasa inggris kelas 3 tahun 2013. Tindakan tegas dari seorang guru ini ialah tidak boleh terlambat masuk kelas dan saat ujian berlangsung siswa tidak boleh menengok ke kanan kiri, jika ada yg melakukan hal tersebut maka tidak boleh melanjutkan ujiannya.

Argumentasi : 
Dari contoh diatas maka guru telah memberikan tindakan tegas yang mendidik. Terbukti dari kontrak belajar yang dipatuhi oleh siswa smk di kelas administrasi perkantoran. Alhamdulillah.
Tindakan tegas yang mendidik  (TTM) adalah upaya pendidik untuk mengubah tingkah laku siswa yang kurang dikehendaki melalui penyadaran siswa atas kekeliruan dengan tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat dan hubungan baik antara guru dan siswa. Dengan tindakan tegas yang mendidik itu guru konsisten terhadap harkat dan martabat siswa, tujuan pendidikan, pengakuan dan penerimaan, serta kasih sayang dan kelembutan tehadap siswa. 
Sumber: http://konselordrsuko.blogspot.co.id/2013/09/contoh-tindakan-tegas-mendidik-cuplikan.html?m=1 diakses tanggal 25 November 2016 .jam 12.41 .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar