Kelembutan Guru PAI
Contoh
:
Seorang
guru di SMPN 1 Kauman Tulungagung yang menanyakan pada peserta didik yang belum
bisa mengerjakan tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menanyakan
kenapa tidak membawa jenis-jenis benda yang dapat mensucikan. Setelah itu guru
menyuruh peserta didik yang belum membawa untuk mencari jenis-jenis benda yang
dapat digunakan untuk bersuci di lingkungan sekolah. Ketika sudah
mendapatkannya siswa disuruh masuk ke dalam kelas.
Argumentasi
:
Guru
seperti ini tidak menggunakan bahasa yang kasar karena pada dasarnya kelembutan
didapaatkan dari guru yang tidak menggunakan kata-kata yang kasar. Kelembutan
seorang guru disini yaitu guru yang tidak membedakan peserta didik satu dengan
peserta didik yang lainnya. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang tidak punya
belas kasihan niscaya tidak dikasihi” (HR.Bukhari). Kelembutan menurut KBBI yaitu kehalusan atau
budi pekerti. Menurut islam budi pekerti sama dengan akhlak yang baik.
Penguatan
oleh Guru PAI
Contoh
:
Peserta
didik di SMKN 1 Boyolangu jurusan administrasi perkantoran yang sering tidak
massuk sekolah. Guru BK mencari tahu kenapa sering tidak masuk sekolah, setelah
guru mencari tahu penyebab kenapa sering tidak masuk dengan menanyakan pada
peserta didik, memberikan pendekatan dan lain-lain. Akhirnya setelah peserta
didik itu mendapat penguatan dari guru BK dia menjadi sering masuk sekolah.
Argumentasi
:
Guru
seperti itu sudah melakukan penguatan dengan hasilnya yaitu peserta didik
menjadi aktif masuk lagi. Guru seperti ini sudah melakukan penguatan dengan
memberikan ucapan-ucapan yang dapat
memotivasi peserta didik.
Materi
Penguatan oleh Guru PAI :
Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasayarat mutlak
untuk mencapai tujuan pembagungan. Salah satu wahanan untuk meningkatkan
kualitas SDM (sumber daya manusia) tersebut adalah pendidikan. Kualitas
pendidikan juga harus ditingkatkan dari waktu ke waktu karena tuntunan arus
globalisasi yang sangat dinamis. Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat
besar terhadap kemajuan bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan
pesan-pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watak bangsa. Banyak hal
yang harus diperhatikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional mulai
dari sarana dan prasarana, kurikulum, peserta didik, kurikulum, evaluasi,
pendidik dan lainnya. Dari beberapa hal diatas pendidik memiliki andil besar
dalam mendidik, membina dan mengarahkan peserta didik. Peranan pendidik dalam
dunia pendidikan menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter peserta didik.
Dalam pelaksanaannya seorang pendidik memberikan penguatan (reinforcement)
kepada peserta didik.
Penguatan berasal dari kata kuat yang
berarti kukuh, teguh, tahan, dan awet, mendapat awalan pe dan akhiran –an
menjadi penguatan yang berarti perbuatan mengukuhkan, membangkitkan,
meneguhkan, mempertahankan dan mengawetkan. Secara tradisional, Penguat
dianggap sebagai sebuah stimulasi atau perangsang. Penguatan atau reinforcement adalah respon
terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya
perilaku tersebut. Penguatan (reinforcement) dapat diberikan secara verbal ataupun non verbal,
yang diberikan guru terhadap tingkah laku siswa untuk memberikan umpan balik
atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi dan memotivasi siswa yang
lain untuk berbuat hal yang sama seperti siswa yang diberikan penguatan tadi.
Keterampilan memberikan penguatan juga diartikan dengan tingkah laku guru
dalam merespon secara positif suatu tingkah laku tertentu siswa yang
memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali, dimaksudkan untuk
membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi
belajar-mengajar.
Ada pula pendapat lain, ketrampilan
memberikan penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat
meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Seorang
guru perlu menguasai keterampilan memberikan penguatan karena “penguatan
merupakan dorongan bagi siswa untuk meningkatkan penampilannya, serta dapat
meningkatkan perhatian. Selain itu, keterampilan
memberikan penguatan merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk
perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku
diwaktu yang lain.
ü Prinsip-Prinsip Reinforcement (Penguatan)
Kata prinsip menurut Kamus Ilmiah Populer
diartikan sebagai “asas; pokok; penting; permulaan; fundamen; aturan pokok”.
Adapun prinsip-prinsip reinforcement berarti suatu yang menjadi pokok
dan penting yang harus diperhatikan dalam menggunakan keterampilan pemberian
penguatan atau reinforcement dalam preoses pembelajaran sehingga
tercapai tujuan pembelajaran.
Prinsip-prinsip reinforcement (penguatan) sebagai bentuk
penghargaan terhadap peserta didik meliputi :
1.
Kehangatan
Adapun yang
dimaksud prinsip kehangatan dapat diuraikan sebagai berikut:
Kehangatan sikap guru dapat ditunjukkan dengan suasana,
mimik dan gerakan badan (gestural). Kehangatan sikap guru akan menjadikan
penguatan yang diberikan menjadi lebih efektif. Jangan sampai siswa mendapat
kesan bahwa guru tidak ikhlas dalam memberikan penguatan.
2.
Antusiasme
Adapun yang
dimaksud prinsip antusiasme dapat diuraikan sebagai berikut :
Sikap antusias dalam memberi penguatan dapat menstimulasi
siswa untuk meningkatkan motivasinya. Antusiame guru dalam memberikan penguatan
dapat membawa kesan pada siswa akan kesungguhan atau ketulusan guru. Antusiasme
dalam memberikan penguatan akan mendorong munculnya kebanggaan dan percaya diri
pada siswa.
3.
Bermakna
Adapun yang
dimaksud prinsip bermakna dapat diuraikan sebagai berikut :
Inti dari kebermaknaan adalah bahwa siswa mengerti dan
yakin bahwa dirinya memang layak diberikan penguatan, karena hal itu memang
sesuai dengan tingkah laku dan penampilannya. Oleh karena itu, kebermaknaan
dalam pemberian penguatan hanya mungkin apabila diberikan dalam konteks yang
relevan. Dalam hal ini, guru harus menggunakan penguatan sesuai tujuan dan tepat
penggunaannya. Sebagai contoh misalnya “menghadapi siswa yang sering gagal,
guru hendaknya menggunakan pujian untuk membuat kritik yang memberikan keseimbangan
ketika kemajuan muncul”. Penguatan tersebut relevan dengan konteks, yakni sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya.
4. Menghindari
respons negatif
Adapun yang dimaksud prinsip menghindari respons negatif
dapat diuraikan sebagai berikut :
Meskipun disadari
bahwa hukuman dan teguran dapat digunakan untuk mengendalikan dan membina
tingkah laku siswa, tetapi respons negatif yang diberikan guru seperti komentar
yang bernada menghina atau ejekan patut atau perlu dihindari, karena hal itu
akan mematahkan semangat siswa dalam mengembangkan dirinya.
ü Komponen-Komponen
Reinforcement (Penguatan)
Penggunaan komponen ketrampilan dalam kelas harus bersifat
selektif dan hati-hati disesuaikan dengan usia siswa, tingkat kemampuan,
kebutuhan serta latar belakang, tujuan dan sifat tugas. Begitu pula dengan
penggunaan komponen reinforcement. Adapun komponen keterampilan penguatan (reinforcement)
adalah :
a.
Penguatan
Verbal
Penguatan verbal dapat berupa kata-kata atau
kalimat yang diucapkan guru. Komentar guru berupa kata-kata pujian, dukungan
dan pengakuan dapat digunakan untuk penguatan tingkah laku dan kinerja siswa.
Adapun penguatan verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk yakni :
1.
Kata-kata
seperti bagus ya, tepat, betul, bagus sekali dan
sebagainya.
2.
Kalimat
seperti pekerjaanmu bagus sekali, caramu memberikan penjelasan baik sekali dan sebagainya.
b.
Penguatan
Gestural
Terkait
penguatan gestural, lebih lanjut diuraikan sebagai berikut :
Penguatan ini diberikan dalam bentuk mimik, gerakan wajah
atau anggota badan yang dapat memberikan kesan kepada siswa. Misalnya,
mengangkat alis, tersenyum, kerlingan mata, tepuk tangan, anggukan tanda
setuju, menaikkan ibu jari tanda “jempolan”, dan lain-lain.
Penguatan ini “sering kali digunakan bersamaan dengan
penguatan verbal,” pekerjaanmu bagus sekali”, pada saat itu guru
menganggukkan kepalanya”. Penguatan gestural termasuk isyarat non-verbal
karena “memberikan gambaran tentang sesuatu dalam rangka memperjelas maksud
atau penjelasan atau uraian yang diucapkan guru”. Namun hal yang harus
diperhatikan adalah “tidak setiap ucapan harus diikuti dengan anggota tubuh,
kalau hal itu memang tidak dilakukan dengan isyarat”.
c. Penguatan
dengan Cara Mendekati
Mengenai penguatan dengan cara mendekati dapat diuraikan
sebagai berikut:
Penguatan ini dikerjakan dengan cara mendekati siswa
untuk menyatakan perhatian guru terhadap pekerjaan, tingkah laku atau
penampilan siswa. Misalnya guru duduk dalam kelompok diskusi, berdiri di
samping siswa. Sering gerakan guru mendekati siswa diberikan untuk memperkuat
penguatan yang bersifat verbal. Dengan penguatan ini, maka dapat menghangatkan suasana
belajar anak, yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi. Kesan akrab
juga dapat ditimbulkan dengan cara ini, akibatnya anak tidak dibebani tugas.
d.
Penguatan dengan Sentuhan
Guru dapat menyatakan penghargaan kepada siswa dengan
menepuk pundak siswa, menjabat tangan siswa, atau mengangkat tangan siswa.
Seringkali untuk anak-anak yang masih kecil, guru mengusap rambut kepala siswa.
Teknik ini penggunaannya perlu mempertimbangkan latar belakang anak, umur,
jenis kelamin, serta latar belakang kebudayaan setempat.
e. Penguatan
dengan Kegiatan yang Menyenangkan
Mengenai reinforcement (penguatan) ini,
sebagaimana dikutip Marno dan Idris sebagai berikut :
Untuk menguatkan gairah belajar, guru dapat memilih
kegiatan-kegiatan belajar yang disukai anak. Karena tiap-tiap anak memiliki
kesukaan masing-masing, guru perlu menyediakan berbagai alternatif pilihan yang
sesuai dengan kesukaran masing-masing anak. Dengan memberikan alternatif
kegiatan belajar yang sesuai dengan kesukaan anak tersebut, maka hal itu bisa
juga menjadi bentuk penguatan bagi anak. Dapat juga penguatan ini diberikan
sebagai akibat dari prestasi baik yang ditunjukkan anak. Misalnya anak
berprestasi dalam hasil belajarnya ditunjuk sebagai pimpinan kelompok.
f.
Penguatan
berupa Simbol atau Benda
Bentuk penguatan ini antara lain : komentar tertulis pada
buku pekerjaan, pemberian prangko, mata uang koleksi, bintang, permen, dan lain
sebagainya. Hal itu dimaksudkan sebagai hadiah.
Jenis simbol atau benda yang diberikan diselaraskan
dengan usia perkembangan anak. Hendaknya tujuan belajar anak tidak mengarah
pada benda tersebut. Oleh karena itu perlu dibatasi frekuensi penggunaannya.
Sumber :
Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung:
Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2008. Menjadi
Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jurnal Penelitian Diunduh 19/09/2016
Pukul 18.42
http://putusriutamidewi.blogspot.co.id/search?q=penguatan Diakses 19/09/2016 Pukul 18.43
http://kbbi.web.id/kuat Diakses pada 07/10/2016 Pukul 19.17
Tindakan
Tegas Yang Mendidik oleh Guru PAI
Contoh :
Guru
yang memberikan kontrak belajar sebelum materi diberikan di dalam kelas. Seperti yg dilakukan di kelas administrasi perkantoran di smkn 1 boyolangu mapel bahasa inggris kelas 3 tahun 2013. Tindakan tegas dari seorang guru ini ialah tidak boleh terlambat masuk kelas dan saat ujian berlangsung siswa tidak boleh menengok ke kanan kiri, jika ada yg melakukan hal tersebut maka tidak boleh melanjutkan ujiannya.
Argumentasi :
Dari contoh diatas maka guru telah memberikan tindakan tegas yang mendidik. Terbukti dari kontrak belajar yang dipatuhi oleh siswa smk di kelas administrasi perkantoran. Alhamdulillah.
Tindakan tegas yang mendidik (TTM) adalah upaya pendidik untuk mengubah tingkah laku siswa yang kurang dikehendaki melalui penyadaran siswa atas kekeliruan dengan tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat dan hubungan baik antara guru dan siswa. Dengan tindakan tegas yang mendidik itu guru konsisten terhadap harkat dan martabat siswa, tujuan pendidikan, pengakuan dan penerimaan, serta kasih sayang dan kelembutan tehadap siswa.
Sumber: http://konselordrsuko.blogspot.co.id/2013/09/contoh-tindakan-tegas-mendidik-cuplikan.html?m=1 diakses tanggal 25 November 2016 .jam 12.41 .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar