Rabu, 09 Juni 2021

Transmigrasi Tahun 1984

Kisah ibu dan bapakku yang dulu adalah seorang perantau atau Transmigrasi. Ibu bapakku asalnya Tulungagung yang merantau atau transmigrasinke Sumatra Selatan. Beliau diajak saudara untuk kesana. Kesana bertiga bersama pak ridhon, pak kaselan, dan bapakku. Beliau merantau tahun 1984. Mereka berangkat dari Tulungagunh naik bis menuju ke Jakarta turun dikantor Transmigrasi untuk ishoma. Setelah sampai ke Jakarta perjalanan ke sumatra untuk menyebrangi laut menggunakan kapal. Setelah sampai ke sumatras selatan naik kereta api turun dipelembang. Setelah itu naik bis untuk menuju lokasi. Dari Palembang ke lokasi transmigrasi membutuhkan waktu cukup lama. Sekitar satu hari dan sampai sana malam. 

Sampailah disana dan istirahat dulu. Setelah paginya dilakukan lotre untuk memilih rumah yang mau ditempati. Ibu bapakku mendapatkan rumah yang sedikit doyong beratap seng dan berdinding papan kayu. Setelah beberapa tahun baru bisa membangun rumah. Membuka usaha toko dan sangat laris. Lalu ibu bapak juga mendapat bantuan berupa dua ekor sapi jantan dan betina dari pemerintah. Dengan sistem jika sapinya sudah beranak, maka anaknya diberikan tetangga sampai 3 kali. Setelah itu sapinya oleh bapak dipelihara sampai menjadi 13 sapi. Ada orang yang menipu bapak dengan iming-iming mengganti dengan gilingan. Ternyata gilangannya rusak.

Bapak ibu juga membuka usaha buka toko dirumah. Lagi lagi dibohongi orang. Mereka berhutang dan tidak membayar. Sampai jutaan hutangnya. Setelah banyak hutang tidak belanja ditoko ibuku lagi. 

Bapak ibu adalah orang jawa yang ikut transmigrasi. Banyak orang jawa yang tidak mau ikut transmigrasi karena lokasinya yang masih babat dan alas. Beliau ikut transmigrasi saat masih mempunyai 3 orang anak. 

Untuk bisa menanam padi disawah harus membersihkan lahan yang penuh dengan rerumputan. Lalu sampah-sampah itu dibakar. Jarak tempuhnya juga sangat jauh. Untuk mandi disana belum ada sumur. Jadi mandi dirawa. Itupun juga jauh dari rumah. 
Saat membutuhkan air harus mengambil dengan timba. Mengusungnya dari rawa ke rumah.

Bapakku juga seorang pedagang dipasar. Menjual beraneka ....., Dari semangatnya bapak berdagang. Sehingga bapak menjadi orang kaya disana. Lalu alasan kenapa pulang kesini yaitu karena banyaknya garong. Garong adalah sebutan orang sumsel untuk menyebut nama orang yang mencuri atau merampok kerumah. Garong disana sangat kejam saat itu. Mereka membunuh pemilik rumah jika tidak segera menyerahkan barang-barangnya. Sehingga ibuku tidak berani tidur dirumah. Akhirnya ibu menginap tidur dirumah orang yang tidak punya. Karena Garong hanya mengincar rumah-rumah orang kaya saja. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar