Rabu, 18 Agustus 2021

Perjumpaan dengan COVID 19

Tulungagung, 23 April 2021

Hai covid 19 yang hanya aku dengar melelui cerita demi cerita. Nyatanya kamu memang benar-benar ada. Tanggal 21 April 2021 tepatnya hari senin tubuhku merasakan sakit. Semua berawal dari teman kerjaku yang sakit namun tetap masuk kerja. Dia mengeluhkan sakit batuk-batuk,pusing, panas dll. Selama dua minggu lamanya masih batuk-batuk. Karena aku kira dia sakit biasa. Aku berfikir bahwa itu sakit biasa.

Berbincang bincang saat jam istirahat setelah sholat dhuhur. Dan disela sela pembicaraan yang di iringi nada batuk". Aku duduk bersandingan dengannya. Sempat perpikir sedikit begini waduh ini nanti covid aja. Lalu pikiran itu hilang karena kami terlalu asyik berbicara. Setelah itu aku merasakan lemas. Pikirku hanya lemas karena belum makan. Saya izin dulu untuk makan siang. Namun setelah makan rasa lemas tetap ada. 

Jam pulang kerja pun tiba. Saya pulang dalam keadaan gak enak badan. Badanku panas mengigil. Seluruh tubuh rasanya panas. Aku ambil obat panas yaitu parasetamol. Namun obat itu hanya bereaksi sebentar lalu kambuh lagi panas. Tetapi sudah lumayan membantu. Dengan meminum obat itu saya bisa tertidur. Meskipun di tengah malamnya harus terbangun lagi dengan merasakan tubuh yang panas. Dalam keadaan ini aku belum sadar bahwa itu gejala CoVid. 

Hari selasanya saya mengusahakan masuk kerja karena setelah minum obat sudah tidak panas lagi. Saat kerja saya merasakan lemas lagi. Akhirnya izin pulang jam 3 sore. Dengan berat hati saya izin ke bu dokter. Bu saya izin pulang dulu. Lalu beliau bertanya kenapa?. Badan saya kurang enak bu. Beliau mengizinkan.

Hari Rabunya tanggal 23 April 2021 belum tersadar bahwa saya terkena virus covid 19. Masih minum obat panas dan beberapa vitamin yang diberikan oleh ibu. Sakit sedikit memulih. Saya bisa menggendong anakku lagi. Menyuapinya makan dll. Ya Allah bersyukur sekali anakku tidak ketularan.

Hari kamisnya saya baru sadar. Saat berada di toko suami. Saya melihat ada YouC dibarisan rak tokonya. Lalu saya mengambil satu untuk saya minum. Setelah meminumnya tiba" ingin menyium bau botolnya. Dalam batin loh kok tidak ada baunya. Tetap belum percaya lalu saat saya pulang kucoba lagi untuk menyium bau minyak kayu putih. Ya Allah benar-benar tidak ada baunya. Lalu kuberanikan tanya kepada bu dokter bahwa saya ada keluhan ini. Beliau menyarankan untuk swab ke klinik wisnu yang lokasinya di Ngantru. Dan memberikan saran untuk tidak cemas. Beliau sangat baik sekali. Semoga Allah selalu melindunginya dan semoga selalu diberikan kesehatan. Aamiin

Hari Jumat tanggal 23 April 2021
Saya dan suami pergi ke klinik Wisnu disana saya swab antigen. Setelah daftar dengan ktp lalu saya masuk ke ruang lab untuk swab. 25 menit kemudian hasilnya keluar. Dengan hati dak dik duk. Dan akupun masih berharap kalau hasilnya tidak +. Karena bisa jadi karena deman yang tinggi akhirnya menjadi gejala tipes yang membuat hilangnya penciuman. Ini benar atau tidaknya saya kurang tahu. Cuman menurut bacaan google.

Panggilan oleh petugasnya dengan namanku. Ya Allah hasilnya benar pisitif covid. Lalu dokternya memberikan pilihan dikarantina dirusun apa karantina mandiri. Saya memilih karantina mandiri. Pak dokternya menuliskan resepnya. Saya dan suami menebusnya di apotik totalnya habis 800 rb. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar