Kamis, 26 September 2019

Islam Nusantara


Islam Nusantara
Islam dibagi menjadi 2 aspek yaitu:
1. Normatif
Normatif : sama diseluruh dunia, apapun alirannya
Contohnya: Sholat 5 waktu, menutup aurat dll
2. Historis
Historis: penerjemahan normatif sehingga bermacam-macam
Contohnya: cara melaksanakan sholatnya, cara menutup aurat dll

Pernah ketika melihat acaranya Gus Gendeng di Alun-alun Tulungagung bahwa *Islam* itu seperti halnya ketela
Ketela itu bisa dimasak berbagai macam rasa. Bisa di masak menjadi tape, telo goreng, telo godhog,dll. Bukankah itu berasal dari sumber yang sama yaitu ketela atau singkong 😊
Seperti itulah *ISLAM* satu namun banyak macamnya 😊 lalu mengapa kita saling menyalahkan
Bukankah hal itu tidak perlu.

Seperti yang Bapak Ngainun Naim katakan bahwa Menyalahkan orang lain membuat kita lupa, bahwa nyatanya kita mempunyai banyak kekurangan.

Istilah Islam Nusantara bukanlah istilah baru ditinjau dari perspektif dalam keseharian ataupun kajian konseptual akademik.
Istilah Islam Nusantara begitu populer setelah menjadi tema utama Muktamar NU ke 33 di jombang pada tanggal 1 sampai 5 Agustus 2015.
Islam Nusantara sebagai model pemahaman Islam semakin ditunggu seiring dengan berbagai kekerasan yang mengatas namakan ISLAM.
Islam Nusantara itu penting untuk kita pelajari karena ini islam alternatif dalam konteks normatif dan historis. Supaya kita tahu, memahami, dan mendalami.

Mengenai *KUALITAS*
Lembaga pendidikan yg akan diikuti masyarakat yaitu bisa memberi harapan sesuai dengan keinginan masyarakat.
Pendidikan yg diharapkan masyarakat
Mahal jika masyarakt percaya maka antri.
Itu sudahlah *RUMUS*
Contohnya yang terjadi di MIN 1 Malang pendaftaran satu hari dengan kuota 200 kursi sedangkan yg daftar  minimal ada 2000.an peserta.
Itu adalah bukti kepercayaan atas kualitasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar